Saturday, December 31, 2011

A Grade A Year..



Jakarta, 31 Desember 2011

Pagi terakhir di tahun 2011. Bagi saya, pagi ini dihiasi rintik hujan, langit yang kelabu dengan lagu-lagu Sheila On 7 yang berteriak kencang lewat speaker di stasiun Sudirman. Menunggu kereta ke Serpong untuk sarapan bersama sahabat saya.. (Yeah, sedikit congkak.. Sarapan aja beda kota :D)

Tulisan kali ini idenya pasaran.. Kaleidoskop hidup pribadi. Ide yang sama dengan hampir 95% penduduk di dunia sepertinya. Tapi, karena ini tulisan dan blog saya, saya akan sebodo sama orang-orang yang punya kalimat negatif mengenai ide ini.

Kemarin, seperti kebiasaan saya setiap pagi, saya membuka facebook dan membuka situs www.blogthings.com. Situs kuis yang setiap pagi saya buka dan kerjakan. Kuis kemarin berjudul, "How You Give Grade To Your 2011?" Hasilnya.. Tadaaaa.. You have a grade A year.. Dan setelah dipikir-pikir lagi, saya memang menjalankan tahun yang luar biasa tahun ini.

Buat saya tahun ini tahun luar biasa. Saya melakukan perjalanan, belajar banyak hal, bertemu orang-orang baru dan luar biasa, mencintai seseorang dengan sangat dan kemudian melepaskannya pergi, belajar ikhlas dan pasrah, mati rasa dan pada akhirnya merasa lagi.

Tapi yang paling penting, saya belajar hal-hal berharga yang saya miliki dalam hidup. Keluarga, kesehatan dan persahabatan. Hal-hal yang akan selalu ada sepanjang hidup, sangat berharga, yang dimiliki dengan gratis asalkan mau dirawat dan dijaga dengan baik.

Peristiwa-peristiwa di tahun ini banyak menempa saya secara emosional. Saya belajar untuk berkompromi dan sedikit lebih sabar dibandingkan sebelumnya (teman-teman yang mengenal saya bertahun-tahun kadang terkejut melihat saya menjadi lebih sabar tahun ini #ngikik).

Dalam setiap perjalanan yang saya lakukan (dan semuanya perjalanan dinas, special thanks to my ex-office) saya menemukan banyak hal berharga mengenai kerja keras, keberanian, keteguhan hati yang pada akhirnya membawa kepuasan tersendiri.

Saya juga mengawali tahun ini dengan menyukai seseorang sampai miris rasanya, menghamburkan begitu banyak kata dalam tulisan-tulisan saya untuk dia (tangan, otak dan hati saya kesurupan untuk memberi kata untuk dia), dulu..), belajar untuk mengerti dan pada akhirnya memahami mengenai hal-hal yang dia sukai. Belajar dari semua perbedaan tersebut untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Dan pada akhirnya, ketika waktunya tiba saya melepaskan dia dan kembali belajar untuk ikhlas membiarkannya pergi dalam hidup saya.

A rollercoaster year.

Saya percaya, bahwa tidak ada perjalanan yang sia-sia. Tidak ada seseorang yang masuk ke dalam hidup saya (meskipun hanya untuk waktu yang sangat singkat), datang tanpa tujuan. Karena tidak ada sesuatu yang kebetulan. Ada pengalaman berharga yang harus dirasakan untuk memperkaya hidup. Menjadikan kita sebagai pribadi yang lebih baik.

Saya belum berani mengatakan bahwa saya sudah menjadi pribadi yang baik. Tapi, dibandingkan dengan tahun sebelumnya, saya merasa menjadi seseorang yang lebih baik. Saya belajar untuk menghargai sebuah perjalanan dan juga pemberhentian. Belajar, bahwa setiap orang selalu memiliki dua sisi yang berbeda, dan saya harus bisa melihat keduanya untuk mendapatkan pemahaman yang tepat. Karena hidup cukup singkat dan saya tidak bisa melakukan semua kesalahan itu sendiri. Saya belajar untuk hidup dari kesalahan yang saya buat dan kesalahan orang lain.

Sujud syukur saya sedalam-dalamnya untuk Gusti Allah tersayang (setiap orang menyebutnya dengan banyak istilah.. Tapi saya punya panggilan sayang, Papi J..). Untuk hidup yang luar biasa. Yang memberikan banyak pelajaran berharga. Tapi tak pernah meninggalkan saya barang sedetik pun. Memberkati saya dengan cinta, kasih sayang dan dukungan yang luar biasa dari keluarga, teman-teman dan orang-orang tercinta.

Matur sembah nuwun sanget, Gusti Allah.. Kula sampun diparingi kathah kageman urip... *sujud syukur*

Saya harus mengakhiri tulisan ini karena sudah dijemput untuk sarapan dengan Sandy (and we're going to have a fun chit chat). Bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal kepada tahun 2011 yang sudah memberikan waktu dan akhirnya kenangan yang luar biasa dalam hidup saya. Dan berjanji pada diri saya sendiri untuk membuat catatan dan kenangan luar biasa untuk tahun mendatang.

Aufwiedhersen, 2011..
Danke schoon..


*angkat gelas bir*
Cheers,
Amel

Friday, December 30, 2011

Menantang Diri Sendiri



Jakarta, 30 Desember 2011

Tulisan ketiga di hari ketiga. Panik, karena saya sudah punya gambaran idenya tapi belum menulis sepatah kata pun. Salah satu kebiasaan buruk dari jaman sekolah.. Nggak bisa menulis kalau belum punya ide.. #tepokjidat

Ide untuk menulis selama 15 hari ini kalau kata teman saya, Sandy seperti menabuh bendera perang karena saya tuliskan di facebook dan twitter. Tantangan kepada diri sendiri yang disebarkan pada dunia bahwa saya akan menulis 15 days in a row. Di satu sisi, ini sesuatu yang seru. Memacu manusia pemalas seperti saya untuk konsisten. Di sisi lain, sama kayak bunuh diri. Seriously..

Kenapa saya bilang seperti bunuh diri?? Karena kalau saya tidak berhasil memenuhi janji saya, berarti saya gagal. Bukan gagal memenuhi janji pada orang lain, tapi yang lebih utama pada diri saya sendiri. Saya belajar bahwa dalam hidup, ketika saya mengecewakan orang lain, saya bisa berjuang keras untuk membayarnya kembali. Tetapi ketika saya mengecewakan diri saya sendiri?? Bebannya menjadi 10 kali (atau mungkin) lebih berat.

Menantang diri sendiri untuk menulis dalam jangka waktu berturutan untuk manusia labil seperti saya gampang-gampang-susah. Gampang ketika jemari seperti kesurupan karena ide yang mengalir dengan lancar. Atau susah karena sudah tahu apa yang akan ditulis, tetapi ternyata jemarinya mandek. Hal ini sudah terbukti, tiga hari berturut-turut saya memandang layar komputer atau laptop atau layar blackberry saya dengan tatapan nanar.. Mau menulis apaaaa??? *sambil jambakin rambut* #aktinglebay Dan setelah sebuah tulisan selesai, ada rasa puas tersendiri.. Satu hari lagi saya berhasil memenuhi janji saya membuat tulisan yang dipublikasikan di blog dan akun sosial media saya.

Setiap orang memiliki ketakutannya masing-masing. Nggak pede untuk melakukan sesuatu.. Menganggap diri belum sanggup dan mampu untuk melakukan sesuatu hal. Dan karena ada beberapa resolusi tahun 2012 saya yang membutuhkan keberanian, saya akhirnya mencoba belajar dari suatu hal mendasar.. Konsisten melakukan apa yang saya suka. Hasilnya?? Saya pun belajar sesuatu dan merasakan kepuasan tersendiri.

Buat saya, menantang diri sendiri merupakan salah satu bentuk berpikir di luar kebiasaan. Bagaimana saya mengejar sesuatu yang saya sukai dengan konsistensi, persistensi dan gaya.

Ada banyak hal yang ingin saya lakukan di tahun 2012 yang kurang dari 25 jam lagi sudah menanti di tepi pintu waktu. Tantangan lain kepada diri saya sendiri. Untuk menjadi seseorang yang lebih baik dengan cara yang positif.

Jadi, coba buat satu tantangan pada diri anda sendiri. Beri tantangan diri anda sendiri untuk sesuatu yang paling anda takuti. Lihat dan rasakan bagaimana pandangan anda berubah menjadi sesuatu yang lebih positif. Seperti yang saya rasakan saat ini.

Karena seperti kata Pandji Pragiwaksono (@pandji), "Semua pasti bisa, asal mau".

*angkat gelas bir Paulner*
Cheers,
Amel

Happiness is...




Happiness is the freedom to love.
Wherever you are..
Whatever you do, be in love and spread love..

- Sarah Sechan -

Thursday, December 29, 2011

Jatuh Cinta?? Go Ahead!!



Jakarta, 29 Desember 2011


Judul di atas 100% bukan hasil pemikiran saya. Kalimat itu ada di papan iklan besar untuk rokok A Mild yang ada di salah satu perempatan jalan utama yang ada di kota Jakarta. Saya melihat kata-kata yang tercetak dengan huruf tebal tersebut dengan setengah mengantuk di pagi yang mendung dalam bis yang berjalan cepat. Tapi, begitu saya melihat kalimat tersebut, saya spontan tertawa dan seperti anak-anak gaul (percaya deh, ini bentuk halus istilah anak alay), saya langsung update status di facebook dan twitter.


Saya suka dengan kalimat itu. Singkat, padat dan jelas. Seperti saya suka dengan perasaan jatuh cinta itu sendiri.


Buat saya, jatuh cinta itu persis seperti syair lagu Jatuh Cinta-nya Oma Titiek Puspa, berjuta rasanya. Seperti permen nano-nano tapi rasanya lebih kaya. Manis, pedas, asin, gurih, pahit dan entah berapa banyak rasa lagi. Biasanya, jatuh cinta itu bahan bakar saya untuk menulis, mulai tulisan galau standart sampai dengan sepik hore yang biasanya saya letakkan di akun social media saya (#vleermuisman paling sering saya beri kata-kata cantik di twitter dulu). Kalau ada yang merasa atau tersipu ya syukur, kalau nggak ada ya sudah. Semudah itu. :D


Sebelum saya membuat tulisan ini, saya menyempatkan melihat linimasa yang beberapa jam terakhir belum sempat saya lirik. Saya tertarik dengan twit @JennyJusuf yang menjawab pertanyaan salah satu followersnya. Jenny Jusuf menulis, “jatuh cinta ya jatuh cinta. Berhasil atau nggak itu lain perkara.” Dan sekali lagi saya tertawa. Kebenaran mutlak dalam sebuah kalimat sederhana lainnya.


Coba jujur, berapa banyak dari kita yang ketika jatuh cinta yang diinginkan hanya jadian, punya status resmi dengan orang yang kita sukai? Dan setelah punya status resmi yang bisa dipamerkan di facebook dengan status ‘in a relationship with…’ atau punya seseorang untuk digandeng kemana-mana, kemudian mengatakan kalau waktu pedekate lebih seru daripada waktu jadian?


Saya, dengan jujur dan muka merah, akan mengangkat tangan saya. I was on that phase too, ladies and gentlements. Menjadi manusia bodoh (yang dengan wajah bijaksana akan saya katakan kalau itu adalah suatu proses). Hasil akhir, selalu hasil akhir yang saya lihat. Saya hampir bisa dikatakan melupakan prosesnya. Padahal jatuh cinta sendiri merupakan perjalanan luar biasa yang ketika dinikmati rasanya….. *speechless* Saya mengingat kembali hal-hal yang saya rasakan atau lakukan ketika jatuh cinta. Mulai dari pipi merah, jantung yang rasanya mainan rollercoaster dadakan setiap ada telpon masuk dari si dia, hari yang mendadak cerah ceria warna warni hanya karena sapaan halo di pagi hari, termasuk semua kalimat puitis yang beberapa diantaranya saya masukkan di facebook dan twitter yang kemudian di-like atau di-retweet. Semuanya hal-hal seru yang ketika dinikmati jadinya memang berjuta rasanya. Tulisan ini contohnya, adalah salah satu “konsekuensi” saya ketika jatuh cinta.


Pada akhirnya, saya menyadari, saya jatuh cinta pada cinta itu sendiri. Semua perasaan yang digambarkan sebagai “butterfly in my stomach” itu. Yang rasanya berjuta. Yang bisa membuat pipi merah tanpa blush on, mata yang berbinar dan senyum yang terus menerus mengembang, seburuk apapun hari tersebut berjalan.


Dan kalimat di iklan rokok itu terbukti benar. Kalau mau jatuh cinta, silakan saja. Jangan terlalu banyak berpikir, seringkali itu malah tidak menghasilkan apapun. Berhasil atau tidaknya anda membawa cinta tersebut menjadi sebuah status adalah urusan lain. Karena menurut saya, yang penting adalah bagaimana kita menikmati setiap proses dan tahapan ketika semuanya membuat jantung berdetak lebih cepat, matahari terasa sedikit lebih ramah dan malam menjadi tempat tawa kecil yang terkumpul karena kata-kata yang terekam di ingatan.

Jadi… Selamat jatuh cinta!!!!!

Cheers,
Amel

P.s : Tulisan ini spesial pake telor ceplok dan dadar buat memet yang sudah mau nulis panjang lebar buat kasih kuliah ke saya tentang mencintai secara dewasa; yang mau nemeni saya nangis, galau dan pada akhirnya bikin saya ngakak ngakak lagi meskipun lagi nun jauh di sana flirting sama panda sambil misuhi semua huruf kanji yang harus dihafalkan bentuk dan cara menulisnya; yang rela jadi pembaca draft pertama tulisan ini, di saat kudu belajar buat ujian besoknya, lewat whatsapp. Yang menguliahi saya panjang lebar lagi (termasuk beda manusia alay, ababil dan dewasa).. Yang mengakhiri kuliah tengah malamnya dengan menyalahkan karakter-karakter laknat dan kalimat, "Lu nulis mahfum gak???apa cuma curhat doank hahahahah.."

Makasih, met.. You know I woof you.. *sodorin klompen londo*


Jujur, saya penasaran sama berapa banyak yang sempat blushing baca sepikan hore saya… Atau nggak ada yak?? *wink*

Wednesday, December 28, 2011

Hujan, Kamu Dan Rasa...



Kupejamkan sebelah mata sambil menghitung satu demi satu tetesan besar yang menghantam jendela
Sedikit tersamarkan oleh uap kopi yang mengepul dari cangkir besar yang tergenggam erat di kedua tanganku
Ada satu, dua, tiga, dan entah berapa banyak lagi butiran besar yang akhirnya luruh
Kesenduan tanpa suara, tanpa kata

Hari ini aku mengingatmu
Karena kamu seperti seberkas terang dan cahaya di langit kelabu
Yang muncul perlahan
Tapi pasti

Dengan sapaan melalui seulas senyum, kedipan mata atau sekedar kata halo
Bertukar kata dan cerita
Mengenai jawaban, pelukan dan dukungan
Atau sekedar tawa renyah yang tertera dalam alfabet
Kesederhanaan yang memberi warna di hari
Membentuk senyum di bibir
Memberikan alasan, pelajaran, pengalaman dan pada akhirnya pemahaman

Memberi rasa

Dan aku duduk disini
Mengamati tetesan perak yang mengalir tanpa terburu
Menyesap rasa pahit-manis dalam cairan di genggamanku
Menghirup bau hujan dan kopi
Memunculkan memori tentangmu
Merasa kembali

….

Jakarta, 28 Desember 2011
10.54 pm

Lucu, bagaimana kadang seseorang yang hanya ditemui sesaat bisa membawa perubahan yang berarti dalam hidup kita

Tulisan ini untuk kamu...

Seseorang yang saya temui pertama kali dengan senyum seperti tersipu
Saya jatuh cinta dengan binar di matamu
Dan membuat saya bisa merasa kembali

Friday, December 16, 2011

Afscheid In De Schemering...



Selamat sore, senja.. Bukan,sore ini saya bukan mau mengirim rindu.. Saya hanya mau tersenyum padamu dan berterima kasih..

Terima kasih karena sudah menerima dan menyimpankan rinduku untuk #vleermuisman selama ini..

Mungkin dia belum membukanya saat ini, mungkin dia akan membukanya suatu saat nanti.. Atau bahkan tak pernah dibukanya

Apapun itu.. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.. Karena selalu ada menampung semua rindu dan galauku.. Menyimpannya dalam rautmu..

Jadi, senja ini aku tersenyum kepadamu.. Karena akhirnya, aku melepaskannya pergi dengan semua cerita yang indah..Dengan rindu yg menumpuk..

Senja ini aku akan pergi dengan sahabat2ku, jingga.. Tertawa bersama mereka.. Melihat kehidupan tanpanya.. Tapi tetap bersyukur..

Jangan sedih, aku akan selalu menatapmu, mengagumi jingga,merah,kelabu dan birumu.. Apapun rautmu..

Dan suatu saat nanti aku akan menceritakan kisahku padamu tanpa perlu menitipkan rinduku padamu..Karena aku bisa menyampaikannya sendiri…



Jakarta, 10 Desember 2011

Ditulis di tengah rintik hujan..
Di senja yang muram…
Tulisan terakhir untuk #vleermuisman

Terima kasih sudah mengajarkan begitu banyak hal…
Terima kasih sudah pernah menjadi potongan semestaku…
Terima kasih untuk potongan waktu dan kenangan yang diberikan…
Aku memasukkan semua catatan dan kenangan itu dalam kotak waktuku sendiri…
Pelajaran berharga mengenai menemukan, menghargai, mencintai dan pada akhirnya melepaskan..
Semua doaku yang terbaik untukmu dalam jalan hidup yang mungkin tak pernah bersilangan lagi…


:: Potongan mikroblog twitter yang dibuat di senja tanggal 10 Desember 2011
Berpamitan pada senja untuk #vleermuisman

Thursday, December 8, 2011

Suatu Pagi Di Stasiun Sudirman




Jakarta, 8 Desember 2011


Catatan lama yang baru dibuat versi lengkapnya setelah sekian lama virus malas melanda. Potongan tulisan untuk note ini sebenarnya sudah saya buat di mokroblog saya, twitter, tapi karena rasa malas yang lebih kuat untuk melanda, maka catatan lengkapnya baru dibuat sekarang. Tulisan mengenai suatu pagi yang mendung di Stasiun Sudirman.

Pagi itu, tidak seperti pagi-pagi yang lain, saya bangun subuh (menurut saya, waktu sebelum jam 7 pagi adalah subuh :D). Salah satu teman saya menginap di kost dan selayaknya overnight antara para wanita, malam itu kami berdua tidak tertidur, tapi cekikikan sampai jam 2 pagi dan pada akhirnya tertidur di lantai kayu yang ada di kamar. Pagi itu, kami berdua bergegas ke Stasiun Sudirman yang jaraknya sekitar 10 menit berjalan kaki dari kost. Sama-sama mengantuk, tapi entah mengapa kami berdua masih sempat untuk tertawa-tawa. Masih ada jeda waktu yang cukup sebelum pukul 07.26, jadwal kereta ke Parung Panjang datang, jadi saya masih sempat mengobrol sebelum Sandy dibawa oleh kereta pagi itu ke stasiun tujuannya.

Kereta pergi, membawa Sandy di dalamnya dan kami berdua saling melambaikan tangan sambil tersenyum. Dan saya? Saya memilih untuk kembali duduk di bangku besi yang ada di peron 2 tersebut. Membunuh waktu yang cukup panjang sebelum saya harus masuk kantor pagi itu. Saya memiliki sisa waktu satu jam untuk dibuang percuma (sebenarnya bukan dibuang percuma, Paulo Coelho mengatakan bahwa waktu yang kita gunakan dan kita nikmati sebenarnya tidak terbuang dengan percuma :D). Dengan pilihan melihat ruangan kantor yang akan saya lihat sepanjang hari, saya lebih memilih untuk mengamati manusia-manusia yang ada di stasiun pagi itu.

Meskipun stasiun di Indonesia bukan tipikal stasiun romantis yang ada di film-film hitam putih, tapi stasiun merupakan salah satu spot favorit saya untuk mengamati manusia-manusianya yang lalu lalang. Saya melihat sepasang manusia yang sedang saling menempelkan lutut dan saling memandang dengan mata berbinar, beberapa manusia yang tertidur di bangku mereka sambil menunggu kereta, dan hei.. cukup banyak manusia yang tenggelam dalam smartphonenya dengan headset terpasang erat di telinga acuh pada keadaan sekitarnya dan saya tersenyum (I used to be one of them actually).

Karena Stasiun Sudirman berada di pusat kota, tak heran setiap kereta yang datang selalu dipenuhi manusia-manusia yang berjubel. Setelah kereta datang, masing-masing peron mendadak dipenuhi manusia dengan berbagai warna, bau dan penampilan. Semuanya bergegas ke pintu keluar. Mengejar waktu. Beberapa di antara mereka menatap saya dengan sinis (atau mungkin iri) karena melihat saya yang duduk dengan santai, tak perlu bergegas seperti mereka mengetik di blackberry saya dan mengamati mereka dengan cengiran usil. Beberapa menatap saya dengan pandangan heran. Dan saya mengamati mereka, mengomentari pakaian mereka (entah karena batik yang mereka gunakan bagus, atau model pakaiannya yang lucu, sepatu sandal mereka yang funky atau bahkan robekan di beberapa tempat yang saya lihat ada di baju atau celana atau rok yang mereka kenakan. Saya mengomentari mereka dalam diam, hanya jari saya yang mengetik lincah di tuts qwerty saya.

Sedang asyik-asyiknya mengamati manusia-manusia yang selalu terburu-buru itu, tiba-tiba di sebelah saya duduk seorang ibu dengan wajah pucat. Ibu itu menoleh kepada saya dan berkata, “rasanya mau pingsan.” MATI BENERAN!!!! Usaha paling kepikir sama saya, ngajak ngobrol itu ibu-ibu supaya pikiran untuk pingsannya hilang (yeah, right, bek!!!). Saya mulai menanyakan kenapa dia mau pingsan. Ibu-ibu yang berasal dari Bekasi tersebut mengatakan bahwa dia yang biasanya naik kereta eksekutif, karena takut terlambat akhirnya naik kereta ekonomi (yang pada akhirnya mengakibatkan dia lebih terlambat ke kantor), dengan suasana manusia di kereta ekonomi yang lebih ganas, si ibu jadi shock dan mau pingsan karena kehabisan oksigen selama perjalanan bekasi-jakarta yang harus dia jalani dengan berdiri. Dari cerita mengenai kereta itu, kami menertawakan mengenai escalator yang mati dan membuat banyak orang terpaksa latihan kardio pagi hari dengan naik tangga. Cerita berikutnya mengenai putra-putrinya, groupies lagu Sheila on 7 yang diketuai oleh anaknya dan potongan lagu Sheila on 7 yang dia nyanyikan bersamaan dengan lagu yang diputar di speaker stasiun. Dan saya tertawa. Kami berdua tertawa. Si ibu (Tengkyuh so much, my dear God) melupakan keinginannya untuk pingsan dan kami berdua tertawa.

Kami berdua, dua orang asing yang bahkan tidak saling mengenal. Hanya bertemu di kejapan sang waktu, tanpa pernah tahu, apakah kami akan bertemu lagi. Berbagi tawa, berbagi cerita, belajar untuk mendengarkan. Dan kami berpisah dengan ciuman di pipi dan janji untuk main ke rumah si ibu di Bekasi. Dan pagi itu saya melambaikan tangan dan mengucap pesan untuk berhati-hati pada sahabat saya dan seorang asing yang mendadak tak asing.

Setiap kata, setiap kedipan mata, setiap pilihan yang kita buat dan kita jalani dalam hidup kita seringkali memiliki sudut-sudut tersembunyi untuk memberikan kejutan kepada kita. Saya memilih untuk tertawa lepas, ikut terkejut, sedikit menangis dan kemudian menari dengan setiap kejutan yang datang, mengambil pelajaran berharga untuk disimpan di hati sebagai bekal hidup dan berlalu untuk menyambut kejutan baru. Dan memang untuk itu kita hidup khan… Menikmati hidup dan mengambil setiap pelajaran berharga di dalamnya.


Cinta dan Cium
Yang Saya Kembalikan Lagi Pada Semesta
Untuk Diberikan Kepada Semua Yang Membaca Catatan Kecil Ini…


Amel



P.s : Catatan ini untuk salah satu manusia penikmat hidup dan manusia yang saya tahu paling mudah berbincang dengan orang asing. Salah satu orang yang menyambut saya dengan pelukan erat dan hangat di belantara Jakarta. Catatan ini kado natal yang saya percepat dan didedikasikan untuk kamu… My beloved Oma Sandy…. A lot of kisses and huggies.

Friday, December 2, 2011

Sepucuk Surat Di Kotak Doa..

Dear Tuhan,

Bulan baru, kota baru, suasana baru dan hembusan hawa hujan yang tak kunjung datang. Dan saya punya cerita untukMu, Tuhan..

Saya bertemu dia. Seseorang yang mungkin tidak sesempurna orang yang lain, tetapi selalu menatap dengan matanya yang teduh. Senyuman tulus yang membuat saya ikut tertawa bersamanya. Kedua lesung di pipinya dan binar di matanya. Dan ketika saya melihat itu semua, siapa yang membutuhkan orang yang sempurna khan, Tuhan? Saya hanya membutuhkannya, mencintai saya dengan sempurna..

Dia menyembahMu dengan caranya yang berbeda. Tapi saya tak peduli. Selama dia mencintai dan takut kepadaMu, bagi saya itu sudah cukup.

Jadi, Tuhan.. Boleh saya meminta untuk memiliki waktu dan cerita bersamanya? Satu permintaan, tapi sangat berarti. Tapi, Engkau, Sang Empunya Waktu.. Dan saya hanya bisa memejamkan mata, berharap dan percaya akan mengabulkannya..

Sincerely,
Me
xoxo

Wednesday, November 30, 2011

Kamu..
Dengan senyum manismu..
Kedipan matamu..
Binar di dalamnya..
Dan aku suka.. ♥

Tuesday, November 15, 2011

Ketika Biru Menangis Dan Aku Pun Menari




Sang Biru menggelap
Mengubah parasnya menjadi Sang Kelabu
Menumpahkan air matanya
Membasahi semua yang berada tanpa naungan di bawahnya
Dan aku pun menari di bawah cucuran air mata Sang Kelabu
Meneteskan air mataku sendiri yang tertutupi miliknya

.....

November 15, 2011
17.59

I'm crying, God..
With my eyes and my heart
I'm tired with all of this
Can you hug me for a moment?
And tell me that everything will be alright..

Friday, November 4, 2011

Percakapan Dengan Jingga..

Biru menatap aku dengan matanya yang tajam. Ia berkata, "sampai jumpa besok, jingga akan menggantikanku."

Aku mengangguk dan datanglah jingga, dengan perlahan. Anginnya yang meniup pelan, tapi tetap bisa mengobarkan rambutku kali ini. Tatapannya sedikit sendu,memperlihatkan sedikit warna kuning terang kepadaku.

Ia bertanya, "kamu masih menungguku? Tempat yang berbeda, tapi kamu masih tetap menungguku?"

"Ya," jawabku tegas.

"Sudah lebih dari setahun."

Dan ia kembali menatapku sendu.

"Aku tahu," kali ini hanya suara lirih yang keluar dari tenggorokanku.

"Rindumu sudah menumpuk disini. Menyesakkan. Mengetahui sudah terlampau banyak dan mulai berdebu. Tidakkah kau lelah?"

Aku menundukkan kepala.

"Tidakkah kau bosan?"

"Lelahkah kau bertukar tempat dengan biru setiap hari? Bosankah kau menyapaku dalam transisimu menjadi hitam?"

Dan kali ini, jingga terdiam.

Kuulurkan kembali rinduku padanya.

"Tolong simpankan ini untuknya. Suatu saat dia akan mengambilnya."

Jingga hanya tersenyum. Memahami. Karena ia tahu, aku bukan satu-satunya yang begitu. Ia hanya mengujiku. Ruangnya sangat luas untuk menyimpan semua rindu dariku, dan entah berapa banyak yang lain.

"Aku harus pergi," katanya.

"Aku mengerti," jawabku.

Dan jingga pun semakin memerah, sebelum berubah menjadi kelam. Memberiku kecupan di wajahku, dengan janji akan kembali besok.

...

Jakarta, 4 November 2011

08.05

Untuk #vleermuisman..
Siapa tahu kamu lupa. Rinduku kutitipkan kepada jingga. Selalu..
Ia hanya menunggumu, dengan sabar, hingga kau datang dan membukanya satu persatu..

Dan Mereka Jatuh Cinta.. Dalam Diam..

Tiara mendongakkan wajah dari buku yang dibacanya. Senyum tipis tersungging di bibirnya yang merah.

Diliriknya jam tangan.

14.25.

Selalu waktu yang sama di sabtu sore. Tidak pernah terlalu cepat. Tidak pernah terlalu lambat. Pas. Meskipun itu jam yang aneh. Lima menit kurang dari jam setengah tiga sore.

Lelaki dengan rambut tebal terpotong rapi, kemeja biru muda dan celana jins hitam. Ipad dengan pembungkus biru tua elegan. Dan tak lupa, tas kamera yang terlihat berat di bahunya.

Pesanannya : frappucinno, ice, tall. Akan didiamkan sekitar 10-15 menit sebelum disesap perlahan.

Lelaki itu akan menghabiskan minumannya sambil menggunakan gadget itu selama kurang lebih satu jam. Sebelum meninggalkan kedai kopi ternama itu.

Tiara senang mengamatinya. Ada sesuatu yang menyenangkan melihat lelaki itu memainkan ipadnya dengan serius, hingga terkadang mengerutkan kening.

Dan Tiara selalu ada disitu. Setiap sabtu pukul 14.25. Hanya untuk diam dan mengamatinya. Dan perlahan-lahan jatuh cinta.

...

Vrede mengusap keningnya yg sedikit berkeringat setelah memotret beberapa hal yang menarik dalam perjalanannya kemari. Tujuannya selalu satu. Segelas kopi dingin untuk Jakarta yang menyengat.

Ia sebenarnya tak suka kopi. Hanya menyukai suasana kedai kopi tersebut. Kopi pilihannya sama dengan kopi pertama yang dibelikan temannya bertahun-tahun yang lalu. Ketika ia pertama kali memasuki kedai ini. Tanpa pernah berubah. Dan ia memang tak ingin mencoba yang lain.

Matanya otomatis melirik ke kursi empuk di pojokan yang sedikit temaram. Dan disana ia melihat, seperti biasanya, gadis itu.

Dengan rambut merah yang sedikit menutupi wajahnya, kacamata tanpa frame dan salah satu kaki diletakkan sebagai alas duduknya di sofa, tampak nyaman di ruang yang sedikit temaram tersebut.

Ia suka mengamatinya membaca. Wajahnya yang berubah-ubah, terkadang serius, terkadang terkekeh kecil dan yang paling ia sukai, senyumnya yang sedikit miring. Terkadang gadis itu menulis. Tapi selalu ada ekspresi yang terlihat di wajahnya. Tanpa mempedulikan orang lain, seolah di dunianya sendiri.

Ia menyukainya. Menyukai semua ekspresi. Seandainya ia memiliki keberanian untuk mengeluarkan kameranya, berkenalan dan mengabadikan rautnya yang tak ternilai itu.

Tapi ia hanya mengamatinya dalam diam. Terkadang hanya meliriknya dari sudut wajah. Dan perlahan jatuh cinta tanpa tahu bagaimana mengungkapnya. Hanya mematrinya dalam memori..

...

Jakarta, November 4, 2011
1.34 am

P.s : Karena terkadang cinta tak perlu kata. Ia hanya membutuhkan satu pandangan, satu tatapan dan ia akan tahu. Hanya perlu hati yang merasa..

No Tittle

You..
You memorised things in picture
And I memorised thing in words..

You..
You like lousy music in your ears
And I.. I like silence and quirky music..

But I can picture us together..
And I really hope, you can find a words to write that I can't find..

Because with you..
I learn how to picture us in my mind..
I learn how to listening your favourite songs..

Not only because that's what you love..
Not only because that's your favourite songs..
But simply because I love you..

...
Jakarta, November 4, 2011
12.01 am
For you, #vleermuisman
As always..

Wednesday, October 19, 2011

Jakarta, Satu Kota.. Seribu Wajah.. Sejuta Cerita..


Jakarta. 18 Oktober 2011

Entah mengapa, entah bagaimana, saya selalu bisa membuat tulisan di kedai McDonalds ini. Meskipun ramai dengan mereka yang makan atau berlalu lalang. Malam ini saya ditemani gemerlap lampu mobil lampu mobil, gedung dan jalanan di pusat kota Jakarta dengan music yang berdentum dari Kylie Minogue.

Duduk di depan pintu memungkinkan saya untuk mengamati orang-orang yang berlalu lalang di sini. Ada pasangan yang berjalan bersisian dengan wajah datar dan mendekap tangan masing-masing di dada, entah mereka masih malu-malu atau sedang bertengkar. Ada sekelompok karyawati yang masuk ke restoran dengan tertawa-tawa, pulasan eyeliner mereka begitu tebal, memesan minuman ringan atau es krim. Atau, hey.. pasangan sesama jenis yang saling melingkarkan lengan di pinggang pasangannya, menurut saya mereka manis.

Beberapa kali saya membuat status atau twitter mengenai Jakarta. Yang paling sering saya tuliskan adalah : Jakarta.. Satu Kota… Seribu Wajah… Sejuta Cerita… Saya duduk di bangku ini kurang dari satu jam, mengamati orang-orang yang memasuki restoran ini atau mereka yang makan seorang diri (sama seperti saya dan entah mengapa terlihat salah tingkah) bahkan mereka yang bergegas di jalanan luar, yang terpisahkan hanya dengan selembar kaca. Wajah-wajah mereka menampilkan jutaan cerita. Mereka yang terlalu lelah untuk berpikir, mereka yang dimabuk cinta, mereka yang bergegas untuk janji pertemuannya, mereka yang menjalani hidup kesehariannya seperti robot, apapun.. Melalui mereka, Jakarta menampilkan wajahnya dan jutaan cerita yang dibawa.

Jakarta selalu menjadi kota yang menarik untuk saya. Tempat segala kesempatan terbuka, tempat segala jalan terbentang panjang namun dengan jurang dalam di sisi kanan dan kirinya; batasan surga dan neraka setipis kabut pagi. Semua ada dan tersedia. Di kota inilah tempat saya saat ini berkarya, jatuh cinta dan tempat seseorang yang saya cintai saat ini tinggal.

Saya tidak berjanji untuk tinggal di kota ini selamanya. Saya hanya suka mengamati denyutnya yang selalu cepat. Semua orang yang ada di sini harus berlari, semua orang berlomba menyamai detaknya yang kencang bila tak ingin terkalahkan. Banyak orang yang pada akhirnya bisa mengikuti arusnya, tapi lebih banyak lagi yang pada akhirnya terkalahkan dan tenggelam. Tapi sebenarnya, kota ini tak pernah terkalahkan. Hanya mereka yang pada akhirnya bisa mengikuti arusnya, yang bisa menyamai detaknya.

Satu kota, seribu wajah, jutaan cerita.. Tak pernah habis, akan selalu ada wajah baru, cerita baru dalam tiap kedipan mata. Selalu menarik untuk dilihat, dipelajari dan mungkin dirasa. Tentang mereka yang kelelahan, tentang mereka yang ambisius, tentang mereka yang mengejar sesuatu, tentang mereka yang sedang jatuh cinta, tentang mereka yang sedang berjuang untuk mimpi-mimpinya. Saya berjanji pada diri saya, untuk menikmatinya…

Cheers,
Amel

Friday, September 23, 2011

A Letter To My Parents



Jakarta, 22 September 2011


Tulisan kedua di Jakarta yang draftnya saya buat di bis yang berjalan menuju ke Tangerang. Perjalanan pulang dari interview terakhir di sebuah perusahaan yang menyediakan crew untuk kapal pesiar.

Interview saya kali ini adalah interview kedua yang saya jalani untuk perusahaan ini. Saya bertemu dengan direktur perusahaan ini. Seorang ibu dengan 3 orang anak (2 putri dan 1 orang putra) yang semuanya sedang bersekolah di luar negeri. Beliau berumur 47 tahun dan sangat cantik. Saya menjalani interview yang menyenangkan dengan beliau.

Mengapa saya menceritakan peristiwa tersebut dalam hal ini? Karena interview ini, berbeda dengan interview yang lain, akan membekas dalam ingatan saya untuk jangka waktu yang sangat lama atau bahkan tidak akan pernah terhapus. Sejujurnya ini bukan interview… namun obrolan antara 2 orang perempuan.. saya, baru menjalani hidup sebagai seorang anak, sementara beliau sudah menjalani perannya sebagai seorang anak dan seorang ibu.

Ibu tersebut, saya tidak tahu namanya, menanyakan kepada saya satu pertanyaan luar biasa yang membuat saya melihat kembali apa yang sudah saya pelajari dan pada akhirnya saya terapkan dalam hidup saya. Beliau menanyakan, what’s your parents taught you about life?

Setelah dia menanyakan hal tersebut, saya terdiam dan mata saya mulai berkaca-kaca…

Dengan rasa bangga dan syukur luar biasa, saya menjawab, “My parents taught me to taking chances in life, to chase what I want through honesty and dignity.”

Saat jawaban tersebut keluar dari mulut saya, saya menjadi benar-benar menyadari apa yang dilakukan oleh orang tua saya selama mendidik saya hingga menjadi seseorang seperti saya. Semua hal yang saya anggap tidak masuk akal, membosankan, tidak menyenangkan yang mereka ajarkan selama masa anak-anak, remaja hingga hari ini pada akhirnya membentuk saya seperti yang banyak orang lihat dan kenal hari ini.

Keseluruhan proses itu tidak semuanya menyenangkan, beberapa malah menyakitkan. Tapi, orang tua saya pun bukan manusia sempurna dan mereka pun belajar menjadi orang tua (yang suatu hari nanti akan saya lakukan juga), manusia tak sempurna yang belajar untuk mengajarkan kehidupan pada buah hatinya. Dan pada akhirnya, apalah arti semua ketidak sempurnaan itu ketika apa yang mereka ajarkan melalui semua pengorbanan itu menjadikan saya (dan kedua adik saya) menjadi manusia yang bisa melangkah menghadapi hidup dan semua tantangannya.

Pada titik ini, saya pada akhirnya (setelah semua kebodohan dan kebutaan saya selama ini), melihat apa yang orang tua saya korbankan untuk anak-anaknya. Mereka mengorbankan hidup mereka untuk hidup anak-anak mereka. Dan ketika putra-putrinya siap menjalani hidup, mereka kembali berkorban dengan melepaskan anak-anaknya dengan doa dan berkat.

Saya membuat tulisan ini untuk dua orang paling penting, paling luar biasa dan paling bijaksana dalam hidup saya. Dua orang yang mengorbankan hidup mereka, untuk kami, anak-anaknya. Dua orang yang ajaran, doa, berkat dan kekuatannya akan ada bersama dengan saya selama saya hidup dan akan saya ajarkan dan berikan kepada putra-putri saya suatu hari nanti.

Tulisan ini saya buat dan persembahkan untuk kedua orang tua saya…

Terima kasih untuk semua pengorbanan papa dan mama. Terima kasih untuk semua ajarannya mengenai hidup. Terima kasih untuk semua doa dan berkat yang selalu diberikan, tanpa perlu saya minta. Terima kasih untuk selalu menjadi sumber kekuatan ketika saya rapuh. Terima kasih untuk semua pelukan tanpa pertanyaan dan pengertian tanpa kata yang selalu diberikan.

Terima kasih… untuk begitu banyak hal yang mungkin saya lupakan atau bahkan tak bisa terucapkan.

Terima kasih sudah memberikan dasar hingga saya menjadi manusia utuh hari ini dengan nilai-nilaimu.

Terima kasih.

I always love you, mom, dad….


With love,

Amel

International Symbol For Marriage




Jakarta, 13 September 2011


Tulisan pertama di Jakarta. Dibuat di food court sambil menunggu Oma Sandy yang jauh-jauh dari BSD, naik kereta untuk menemui saya pertama kalinya dan makan siang bareng. (Dan pada akhirnya menemani saya interview di Thamrin sore ini… Sooo happy).

Tulisan pertama saya di Jakarta ini bukan mengenai macet atau panasnya Jakarta. Sudah terlalu banyak tulisan dan keluhan mengenai kedua hal tersebut, saya rasa. Dan lagi, keduanya sudah menjadi hal yang biasa. Tulisan ini justru tentang profile picture bbm salah satu kontak saya. Yang kebetulan laki-laki, berumur sekitar 40 tahun dan baru saja menikah. Gambar itu sudah saya letakkan di bagian atas tulisan ini.

Pertama kali saya melihat gambar ini, saya kesal setengah mati. International symbol for marriage, my ass!!!! There’s no such things like that if you live your marriage life in a right way. Gambar tersebut menunjukkan bahwa pria menyembah wanita dan menyerahkan kartu kreditnya. Apa nggak salah??

Mungkin gambar tersebut dimaksudkan untuk bercanda. Akan tetapi, karena nilai-nilai yang selama ini diajarkan pada saya mengenai pernikahan berbeda 180 derajat dari apa yang disebut sebagai “international symbol” tersebut, saya menganggap gambar tersebut cenderung menghina kaum perempuan terkait peranan mereka dalam hubungan pernikahan.

Jujur, sampai saat ini saya termasuk salah satu manusia yang mules mendengar kata “pernikahan”. Kenapa? Karena butuh komitmen luar biasa terkait kejujuran, kesetiaan, pembagian peran dalam hidup sehari-hari dan masih banyak lagi. Pihak laki-laki sebagai kepala keluarga memang memiliki tanggung jawab secara financial kepada istri dan anak-anaknya. Sementara pihak perempuan, mengesampingkan sebagian besar keinginan pribadinya untuk suami dan anak-anaknya. Dua-uanya melakukan pengorbanan yang besar, secara financial dan emosional untuk membangun suatu pernikahan yang berjalan dengan baik. Saya melihat hal ini pada semua perkawinan yang bertahan bertahun-tahun dan melewati semua badai. Bukan hanya sekedar laki-laki yang memberikan kartu kreditnya kepada istrinya sambil nangis darah.

Melihat gambar yang dipasang oleh salah satu kontak bbm saya tersebut saya nggak mau bilang teman, karena memang bukan teman saya) adalah gambaran picik, bagaimana seseorang menilai suatu bentuk hubungan pernikahan. Terlepas dari maksudnya sebagai bahan bercanda.

Cheers,
Amel

Thursday, August 18, 2011

Imaginary Conversation

Kamu bisa jatuh cinta hanya dengan kata??

Yep...

Kamu bisa jatuh cinta hanya dengan mendengar suara??

Yep..

Meskipun belum pernah bertemu??

Yep..

Kamu aneh...

Nggak, aku nggak aneh. Aku hanya tidak bisa berbuat apa-apa. Bukan aku yang memilih cinta. Bukan aku yang memilih kepada siapa aku jatuh cinta. Bukan otakku yang memilih ketika ini semua terjadi..

Jadi??

Ya udah...

Ya udah apa???

Ya jatuh aja.. Kenapa harus takut?? Nggak bikin mati khan??

Nggak bikin mati. Cuma kalo salah juga bikin patah hati, terus bikin pingin bunuh diri. Sama aja, akhirnya juga mati.

Dia tertawa. Perempuan dengan tawa lepas dan terusan polkadot itu tertawa. Tawa renyah yang menyenangkan untuk didengar.

Kamu pengecut!!

Hah?? Nggak.. Aku hanya menjaga hatiku dari kerusakan permanen.

Kamu nggak menjaga hati kamu, sayang. Kamu terlalu pengecut untuk merasakan hidup. Terlalu takut untuk jatuh cinta. Terlalu kaku untuk merasakan semua hal yang baik dari cinta. Kalau kamu jatuh, ya bangun lagi... kenapa harus ditakuti???

Dan aku hanya menatap dia dengan pandangan kabur tertutupi asap rokoknya yang berwarna perak. Berusaha mencerna percakapan aneh ini. Kemudian aku menghela nafas panjang dan beranjak pergi.

.....

Surabaya, 18 Agustus 2011
16.32

Potongan percakapan yang entah dari mana asalnya yang selalu ada ketika saya membaca cerpen Cinta Cahaya milik Fira Basuki.

Saturday, August 13, 2011

LIFE




LIFE

This is your life...
Do what you love and do it often
If you don’t like something, change it
If you don’t like your job, quit
If you don’t have enough time, stop watching tv
If you’re looking for the love of your life, stop!!
They will be waiting for you when you start doing things you love
Stop over analyzing, life is simple
all emotions are beautiful
When you eat, appreciate every last bite
Open your mind, arms and hearts to new thing
And people, we are united in our differences
Ask the next person you see what their passion is and share your inspiring dream with them
Travel often, getting lost will help you find yourself
Some opportunities only come once, seize them

LIFE IS ABOUT THE PEOPLE YOU MEET AND THE THINGS YOU CREATE WITH THEM
SO GO OUT AND START CREATING
LIFE IS SHORT
LIVE YOUR DREAM AND SHARE YOUR PASSION



Wednesday, August 10, 2011

Sepatu Vs. Sandal Jepit

Surabaya, 12 Mei 2011

Sepatu Vs. Sandal Jepit

Tulisan ini awalnya dibuat pada bulan Mei 2011, akan tetapi karena kesibukan dan terutama kemalasan, pada akhirnya baru diselesaikan di pertengahan bulan Agustus ini. Cerita seru yang saya dapatkan ketika menemani seorang teman menjaga booth di pameran komputer.

Kamu bisa menilai seseorang friendly atau gak ketika dia pake sepatu dan kamu pake sandal jepit sky way, tapi dia masih mau menyapa/kenalan sama kamu…

Hampir seminggu terakhir ini saya lagi suka banget kemana-mana lagi pakai sandal jepit sky way warna biru tua. Awalnya saya beli sandal itu karena terpaksa, tapi lama kelamaan sih jadi nyaman. Sandal jepit itu jadi andalan saya untuk kemana-mana kecuali untuk dipakai di kost atau ketemu klien di kantor. Yah, tapi emang pada dasarnya saya manusia cuek bebek sih. Kaos oblong, celana jeans, sandal jepit dan back pack pun bisa jadi andalan saya kemana-mana.

Hari ini, saya nemenin salah satu teman yang jaga pameran computer di salah satu mall besar di Surabaya. Dengan dandanan pulang kantor : jaket, celana panjang, tampang tanpa make up, rambut awut-awutan, back pack hitam favorit… dan nggak lupa, sandal jepit kinclong kesayangan baru. Dengan dandanan gembel macam begitu, salah satu keuntungan ketika masuk ke tempat pameran seperti itu adalah nggak bakalan ada sales yang tertarik untuk bagikan brosurnya untuk saya atau memaksa saya mendengarkan penjelasan mereka :p.

Salah satu petugas yang menjaga booth pameran barengan teman saya itu perwakilan dari kantor pusat Jakarta. Dandanannya sih lumayan perlente, klasik eksekutif muda di ibukota. Pengalaman saya sebagai manusia selama ini mengajarkan bahwa apabila ada orang baru yang duduk satu meja dengan saya, maka saya akan mengulurkan tangan dan berkenalan. Tapi (kemungkinan besar) karena tampang saya yang gembel tersebut, rekanan Jakarta yang perlente tersebut sama sekali tidak mengajak berkenalan or at least being friendly. Not at all. Yah, sayanya sih tidak ada masalah apa-apa, malah senang karena dari situ saya mendapatkan ide untuk tulisan ini.

Poinnya adalah, ternyata kadang semakin modern dan metropolis seseorang (atau mungkin bagi orang-orang tertentu), makin pentinglah suatu alas kaki untuk penilaian kita. Apa yang seseorang pakai atau sesuatu yang ditenteng kemana-mana menjadi faktor penting apakah orang tersebut berhak mendapatkan sikap ramah dari orang yang lain. Miris... Karena sesuatu yang menjadi patokan adalah luaran yang sebenarnya sangat tidak berharga (para koruptor berdandan terhormat dengan mobil mewah, pakaian branded dan sepatu keluaran luar negeri tapi berhati sampah).

Sebenarnya, ketika menulis paragraf di atas, saya jadi bertanya-tanya, bukannya kadang pun saya melakukan seperti itu. Ternyata ketika keadaannya dibalik, saya menjadi pihak yang tidak mendapatkan keramahan hanya karena baju atau sepatu yang saya kenakan tidak serapi atau bermerek seperti orang lain pakai.. hal tersebut sangat tidak menyenangkan. Dinilai, berdasarkan pakaian, bukan kemampuan atau hati yang saya miliki. Yah, satu pelajaran berharga dari hidup untuk tidak meremehkan orang-orang yang baru saya temui atau orang-orang yang selama ini ada di sekitar saya, hanya karena busana mereka.

Cheers,
Amel

Rindu

Kamu pernah tahu rasanya rindu??

...

Rindu itu, ketika kamu merasa sendiri di tengah keramaian dan yang kamu inginkan hanya pulang, kembali ke pelukannya.

Rindu itu ketika kamu menatap layar teleponmu dan berharap dia akan menghubungimu.

Rindu itu ketika kamu hanya bisa diam dan tersenyum, senang hanya dengan mendengar suaranya.

Rindu itu ketika kamu berbicara dengannya melalui telepon tapi tak bisa menyuarakan isi hatimu.
Namun cukup bahagia hanya dengan mendengarnya menceritakan harinya, kegiatannya, apapun. Mengetahui bahwa dia baik-baik saja di sana.

Rindu itu ketika kamu menangis sampai tertidur. Berharap kamu bisa merobek jantungmu untuk mengenyahkan perasaanmu, tapi tak bisa.

Rindu itu ketika kamu mengelilingi kota untuk melihat gemerlap lampu dan berharap bisa memuntahkan semua rasamu untuknya di angin yang bertiup, supaya angin menghempaskannya pergi dan hatimu tak lagi sakit.

Rindu itu ketika kamu menuliskan semua surat cinta untuknya hanya untuk merobeknya kembali karena tak punya keberanian untuk memberikannya.

Rindu itu ketika semua rasa itu berkumpul, menyesak di dada.. dan kamu hanya bisa membuka mulut tanpa bisa berkata karena kehilangan suara...

Dan yang kamu mau hanya dia.. Di sini.. Tanpa pertanyaan.. Hanya pelukan...

Dan kamu akan baik-baik saja...


Surabaya, 10 Agustus 2011
Untuk #vleermuisman-ku
Untuk #bee-nya iva
Untuk #kamu-nya sandy
Untuk #seseorang yang bisa membuat seorang memet galau

Cheers...
Amel

Monday, August 8, 2011

Courage

People Who Really Live Are Those Who Have Courage To Pursue Their Dreams....

Thursday, August 4, 2011

A Letter For Vleermuisman

Dear you,

It’s been over a year...
But you’re still in my mind..
And most important is... you’re still in my heart...

Miles by miles I go...
Many people I met...
But, still...
I can’t get you out of my heart or even my mind..

People asking me...
What makes me falling in love with you?
I’m asking to myself..
What makes me falling in love with you?
Can’t answered it...

I just know...
That i’m falling into you...
Just by chance...
And suddenly i don’t want anybody else...

So now..
I’m stare at the red skies...
With thousand stars...
While silver mist around me..
And the sound of sway leaves surround me..
I still don’t know why i can’t get you out of my mind and my heart...
I.. Just.. Can’t

Sunday, July 31, 2011

1000 Mimpi

Surabaya, 31 Juli 2011

Satu tulisan lagi yang saya mulai (dan mudah-mudahan sekaligus selesai) di restoran siap saji 24 jam. Tapi kali ini, tulisan ini dibuat di siang hari. Di tengah keriuhan keluarga-keluarga yang makan bersama dan bau ayam goreng yang menusuk hidung. Saya, sudah makan, dan ke restoran ini untuk menunggu motor saya yang sepertinya perlu banyak perbaikan (meringis).

Ide tulisan ini saya dapatkan ketika saya duduk di tempat saya menulis semalam. Saya duduk menghadap dinding, dengan lukisan lucu sepanjang dinding dengan tulisan yang mendadak membuat saya mewek. Tulisan dalam lukisan itu adalah : Dreams are free, so free your dreams.

Saya ingat, saya pernah membaca bahwa menjadi orang dewasa berarti menjadi serius. Menjadi serius karena rutinitas yang selalu dijalani dari waktu ke waktu. Seringkali menjadi dewasa berarti melupakan mimpi yang kita miliki dan mulai hidup secara realistis. Saya menemukan bahwa terkadang hal tersebut membuat frustrasi. Bukan khayalan unyu seperti mimpi bisa terbang tanpa memiliki sayap, tapi mimpi untuk suatu hal yang lebih baik. Salah satu contohnya adalah, saya punya mimpi untuk melanjutkan sekolah ke Belanda, salah satu hal paling dekat yang saya lakukan untuk meraih mimpi tersebut adalah dengan belajar Bahasa Belanda. Ada beberapa orang yang mengatakan, buat apa saya mengambil kursus bahasa Belanda yang tidak terlalu berguna dibandingkan dengan mengambil kursus bahasa asing lain yang lebih mendunia, bahasa Mandarin contohnya. Jujur, saya sedikit jengkel dengan kata-kata mereka semua. Mereka tidak tahu apa mimpi saya, mereka yang hanya mengenal saya sekedar nama tapi dengan penuh percaya diri menghakimi mimpi yang saya miliki.

Dibesarkan di keluarga dan lingkungan yang mempercayai bahwa semua mimpi bisa menjadi kenyataan dengan kerja kerasa dan berpikir positif, saya tidak bisa menerima begitu saja ide bahwa usaha yang saya lakukan untuk meraih mimpi adalah sia-sia. Karena saya percaya bahwa meskipun ada mimpi yang tidak kesampaian, tapi selama saya sudah berusaha secara maksimal, entah kapan dan bagaimana pelajaran itu akan berguna. Seperti salah satu quote favorit saya yang berbunyi, “make a decision, if it’s right, you’ll success; if it’s wrong, you’ll learn”.

Dari pengalaman saya belajar bahasa tersebut, saya belajar bahwa lebih baik diam daripada menghina mimpi orang lain. Kalau saya bisa mendukung mimpi tersebut, saya dukung; kalau tidak bisa, lebih baik saya diam. Karena sekenal apapun saya dengan seseorang, terkadang saya tidak tahu seberapa berartinya mimpi tersebut bagi orang tersebut. Jadi, dalam salah satu program terapi jiwa saya sebulan ke depan adalah membuat papan mimpi saya penuh kembali. Merancang kembali mimpi-mimpi saya untuk tujuan hidup saya. Kali ini dengan tambahan keyakinan, bahwa saya akan bisa mewujudkan mimpi-mimpi saya.

Jadi, ambil pulpen dan notes atau lappy tersayang anda, mulai tuliskan mimpi-mimpi Anda dan perjuangkan. Because it’s worth enough to fight for....

Cheers,
Amel

Attraversiamo


Surabaya, 30 Juli 2011

Tulisan kedua di malam yang semakin larut ini. Lampu di gedung tua di seberang saya entah mengapa semakin romantis (meskipun sejarahnya sangat jauh dari romantis :D). Kayaknya otak saya sedang mengalami proses pembakaran karat yang selama ini numpuk gila-gilaan. Yeah, karena saya sedang dalam masa transisi, masa pindahan.. dari yang sibuk menggila jadi santai menggila. Saya akhirnya memutuskan untuk menuntaskan ide-ide untuk tulisan menjadi tulisan yang sesungguhnya. Sangat menyenangkan ternyata menulis kembali. :D

Saya punya beberapa hobi yang sudah ada sejak kecil dan masih saya sukai hingga saat ini, salah satunya adalah membaca. Hobi yang diajarkan dan ditularkan oleh Ayah saya tercinta (dan saya sangat bersyukur untuk hal tersebut). Saya menyalahkan Ayah saya 100 % untuk kecanduan saya terhadap kecintaan saya terhadap buku dan tulisan :D. Sejak saya bekerja, ada begitu banyak buku (98% di antaranya adalah novel) yang saya beli dan karena kesibukan saya, ada beberapa buku yang pada akhirnya terlupakan atau hanya dibaca beberapa bagian saja. Salah satu buku yang masih belum saya selesaikan adalah buku “Eat, Pray, Love” karya Elizabeth Gilbert.

Eat,Pray,Love adalah film dan buku yang mendadak booming. Kemunculannya sedikit banyak mencuri hati masyarakat Indonesia karena Ubud sebagai salah satu lokasi shooting. Saya menonton filmnya baru membeli bukunya. Tapi, saya selalu percaya bahwa buku selalu lebih detail dibandingkan film yang hanya berdurasi 1,5 jam. Melalui buku, saya bisa benar-benar berjalan dengan Liz Gilbert, mencerna perjalanannya di ketiga negara tersebut. Imajinasi saya sebagai manusia pisces cukup aktif untuk berbuat hal tersebut. Sayangnya, dari ketiga bagian buku tersebut, bagian yang sudah saya selesaikan (dengan susah payah) adalah bagian ketika Liz menceritakan hidupnya di Italia, the “eat” part.

Satu kata Italia yang melekat di benak dan hati Liz dan saya adalah “attraversiamo”. Bunyinya indah, saya suka dengan pelafalannya. Seperti begitu banyak kata dalam bahasa Italia lainnya, kata ini diucapkan dengan intonasi yang berapi-api. Menarik, seksi. Artinya sendiri, “mari menyeberang”, biasa diucapkan oleh orang Italia ketika mereka akan menyeberang jalan. Dari sisi jalan yang satu ke sisi jalan yang lain. Saya tidak pernah memikirkan kata tersebut (selain karena pelafalannya yang menurut saya eksotis) sampai hari ini.

Beberapa hari terakhir ini, ada ketakutan, keraguan dalam diri saya karena sebentar lagi akan jadi pengangguran (bahagia, untuk sebulan kedepan :D). Saya takut dan ragu, apakah saya akan bisa survive?? Setelah hidup yang cukup sibuk kemudian menghabiskan waktu dengan beristirahat total dengan pulang kembali ke rumah (dimana semua cinta berada dan akan selalu ada), apakah saya bisa cepat mendapatkan pekerjaan pengganti. Dan di tengah semua keraguan dan ketakutan saya ini, kata ini kembali muncul dalam benak saya. Attraversiamo. At – tra – ver – si – a – mo... Berulang-ulang, secara otomatis dalam benak dan hati saya. Mari menyeberang...

Saya menuliskan kata ini sebagai status di bbm, facebook dan twitter saya. Sampai seorang teman berkomentar di twitter : Ikuuuttt. Dan saya menjawab, “boleh, tapi harus berani seperti saya”. Dan saya terdiam. Itu jawabannya!!! Itu jawaban untuk semua keraguan dan ketakutan saya.... SAYA HARUS BERANI. Berani untuk keluar dari zona nyaman saya, keluar dari semua rutinitas saya untuk belajar hal-hal baru. Mulai lagi dari nol, untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Keluar dari tempurung saya untuk melihat dunia yang lebih luas dan belajar tentang hidup.

Sembari membuat tulisan ini, saya mengingat percakapan dengan beberapa orang yang berbeda mengenai keinginan saya untuk pindah pekerjaan dan pindah kota ini, mereka semua memberikan semangat dan salah satu kalimat indah yang teman saya katakan adalah, “mungkin yang kamu lihat adalah kegelapan, tapi bukannya waktu tergelap di malam hari adalah saat sebelum fajar? Tabahkan hatimu, dan kamu akan melihat terang.”.

Jadi, saya mengumpulkan doa dan ucapan penyemangat hati dari semua orang yang saya kenal dan entah bagaimana berbincang dengan saya dan pada akhirnya menguatkan hati saya untuk menyeberang. Saya juga mengumpulkan semua kepingan pelajaran berharga yang saya dapatkan dalam perjalanan hidup saya dalam dunia kerja ini, belajar dari semua itu dan menjadikannya dasar untuk menjadi manusia yang lebih baik.

So, attraversiamo...

Cheers,
Amel

Saturday, July 30, 2011

Bersyukur

Surabaya, 30 Juli 2011

Salah satu tulisan di penghujung bulan Juli. Salah satu bulan favorit saya. Saya membuat tulisan ini di tengah hiruk pikuk anak kecil yang bermain, yang ternyata tidak bisa diredam meskipun saya sudah menggunakan head set dengan volume penuh, di restoran fast food 24 jam. Jadi, tulisan ini saya mulai dengan bau ayam goreng yang menusuk hidung ditemani satu gelas besar coke (meskipun saya sedang batuk).

Anyway, beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dengan salah satu papi bos saya untuk membicarakan mengenai keputusan resign saya. Kalimatnya yang menohok saya adalah, “Saya dulu sering membaca statusmu yang mengucap syukur. Kenapa sekarang tidak pernah lagi?” Damn!!! Rasanya seperti ditampar teflon tepat di jidat. Saya dipaksa untuk menilai kembali hidup saya beberapa bulan terakhir ini... Well, mari berkata jujur... Sepanjang tahun 2011 ini.

Perjalanan pulang selama setengah jam dari tempat pertemuan kami tersebut dan sesampainya di kost, saya menilai kembali hidup saya belakangan ini, apakah benar saya kurang bersyukur seperti yang papi bos saya itu katakan. Dan jawaban jujur yang kembali menusuk hati saya adalah, ya... saya kurang bersyukur. Saya menghitung kembali berkat yang saya terima dan ucapan syukur yang saya keluarkan, dan hasilnya minus (meringis dan mengaku bersalah). Kenapa bisa begitu?? Ya, saya mengawali twit saya setiap pagi dengan mengucapkan selamat pagi pada Tuhan saya, tapi tak pernah benar-benar mengucapkan salam padaNya dengan doa pagi. Lebih penting menjawab twitter, sms ataupun email yang masuk. Akhirnya rutinitas doa pagi pun seringkali saya lewatkan. Dan setelah menjadi manusia sombong selama ini (karena dengan pede jayanya saya menganggap tidak membutuhkan doa dan ucapan syukur untuk survive menjalani hari), saya menyadari... kekuatan saya untuk menjalani hari demi hari dengan segala kesusahan yang menghadang adalah hasil dari doa dan ucapan syukur saya bertahun-tahun lalu atau doa dari kedua orang tua saya, bukan hasil kekuatan saya.

Meskipun saat ini saya belum menjalani rutinitas saya sebagai umat kristiani yang baik, dengan cara berdoa dan berwaktu teduh secara rutin, paling tidak saya belajar (lagi) untuk bersyukur. Memulai pagi dengan ucapan syukur masih diberi nafas untuk melanjutkan hidup, syukur masih bangun dengan keadaan sehat dan seabrek ungkapan syukur yang bisa saya panjatkan sepanjang hari karena diberi hidup dan bisa menjalaninya oleh Gusti Allah tersayang. Sekali lagi, saya diingatkan, bahwa ada banyak hal yang pantas disyukuri, bahkan kejadian yang terlihat seperti hal yang buruk bagi hidup saya. Bersyukur, karena rencanaNya bukan rencana saya, apapun yang Ia berikan pada saya pasti memiliki maksud dan tujuan tertentu yang berguna bagi saya.

Jadi, sudahkan Anda bersyukur hari ini? Saya sudah... berkali-kali... and it feels so good.

Cheers,
Amel

Wednesday, July 20, 2011

Surprises

Jakarta, 15 Juli 2011
Twit pertama saya pagi ini adalah : Selamat Pagi, Tuhan Yang Selalu Memberikan Kejutan Yang Luar Biasa. Pagi ini juga, saya mendapatkan notifikasi di facebook yang memberitahukan bahwa teman saya di bangku kuliah yang juga teman satu SMA saya sudah menulis bukunya sendiri. Menurut saya ini semua luar biasa khan? Semua kejutan yang terjadi dalam hidup kita, entah memberikan warna-warni yang cerah atau warna pekat, yang jelas, semuanya akan memberikan warna dalam perjalanan hidup yang diberikan pada kita ini.

Ketika saya membuat keputusan untuk meninggalkan pekerjaan yang saya jalani hampir selama dua tahun terakhir ini, saya mendadak merasa sangat tua. Mengapa? Karena ketika saya melakukan pekerjaan yang sangat menuntut dan membutuhkan 12 – 18 jam sehari ini, saya secara perlahan menjadi terlalu bertanggung jawab dan lupa bagaimana rasanya menjadi anak kecil. Saya merasa dalam setiap detik yang saya lalui, harus selalu siap memikul semua beban dalam setiap keputusan yang saya ambil. Saya lupa rasanya untuk bersenang-senang dalam menjalani hidup, kebahagiaan merasakan suatu kejutan dalam hidup dan merayakannya.

Kejutan dalam hidup, tidak selalu menyenangkan karena terkadang menyedihkan atau bahkan menimbulkan berbagai macam perasaan tidak enak dalam hati kita. Tapi menurut saya, kejutan-kejutan tersebut seperti petasan yang membuat malam yang biasa meledak dengan suara dan warna-warninya. Awalnya pasti terkejut, tapi pada akhirnya kita tertawa karena mengajarkan kita untuk tidak terlalu serius dalam menjalani hidup. Kejutan itu mungkin tidak secara langsung berhubungan dengan kita, tetapi terkadang bersinggungan, misalnya peristiwa yang saya berikan di awal tulisan ini. Entah mengapa (mengingat saya hanya teman biasa, dan tidak memiliki kedekatan atau hubungan khusus dengan teman yang menulis buku tersebut), saya ikut senang dan bangga dengan teman saya itu, karena saya tahu dia seseorang yang cerdas dan pantas mendapatkan penghargaan dalam bentuk diterbitkannya buku tersebut.

Menutup tulisan ini, mendadak saya teringat dengan jawaban dari Ibu saya ketika saya mengatakan untuk keluar dari pekerjaan saya tanpa memiliki pekerjaan cadangan adalah : nikmati waktumu untuk beristirahat dan kumpul dengan semua keluargamu disini, kadang hidup memberikan kejutan yang tidak pernah kamu sangka dan akan membuatmu tertawa. My mom, the best mom in the world and wise mom in the world. So, lift your glass, says “cheers” and enjoy your life.

Cheers,
Amel

Monday, July 18, 2011

Trust Fall

Jakarta, 14 Juli 2011

Saya memulai tulisan ini dengan mata separuh terpejam, di atas tempat tidur yang diberikan dengan kebaikan teman-teman dari perusahaan rekanan di handphone pinjaman dari kantor dan menyelesaikan tulisan ini di bandara Soekarno Hatta, menunggu pesawat yang ditunda satu jam dari waktu yang seharusnya.

Keluar dari pekerjaan yang saya geluti dengan sepenuh hati selama 2 tahun terakhir ini, tanpa ada cadangan pekerjaan apapun hanya dengan keyakinan penuh bahwa hidup saya akan baik-baik saja, bisa dibilang cukup gila oleh sekitar 95% populasi di dunia. Ada beberapa saat dimana saya benar-benar berpikir pun, saya akan mengatakan bahwa saya gila. Melepas pekerjaan, dengan sedikit cadangan tabungan dan kembali ke rumah orang tua saya untuk beristirahat selama sebulan. Kalau saya punya kembaran yang datang dari masa lalu dan melihat apa yang saya lakukan hari ini, maka tak diragukan lagi, saya akan berteriak kepada diri saya sekarang : ARE YOU OUT OF YOUR MINDS???? Dan saya akan cekikikan melihat diri saya yang dulu kebakaran jenggot (gambaran ini cukup lucu di kepala saya :D). Tapi keputusan yang saya ambil ini, tidak saya sesali. Sama sekali. Saya tahu pasti bahwa akan lebih sehat bagi jiwa, hati dan otak saya apabila saya keluar dari perusahaan yang begitu saya cintai tetapi juga menyakiti hati dan jiwa saya ini. Dan ini adalah hal terakhir yang saya pikirkan dan rasakan sebelum jatuh tertidur di hotel bintang lima ini.

Di pagi hari, ketika pertama kali membuka mata, saya sadar apa yang sedang saya lakukan. Ya, saya sedang bermain trust fall dengan Tuhan. Ada yang pernah tahu mengenai permainan ini? Permainan lama dan terlihat sederhana. Kita diminta untuk naik ke suatu tempat yang lebih tinggi dan menjatuhkan diri ke belakang sambil menutup mata dan mempercayai bahwa teman atau pasangan saya yang ada di bawah, akan menangkap saya dan tidak membiarkan saya jatuh dan kesakitan. Permainan ini terlihat sederhana karena seolah-olah yang diperlukan hanyalah menutup mata. Tapi sebenarnya sangat berat, karena kita harus belajar mempercayai orang yang akan menangkap kita.

Permainan trust fall saya kali ini bersama Tuhan. Untuk kesekian kalinya dalam hidup saya, dan jujur saja, ini yang paling parah, saya dituntut untuk mempercayai rencanaNya dan manut. Apapun konsekuensinya, saya harus dengan legawa menjalaninya. Yakin dan percaya, Ia, sang pemilik hidup sudah merancang jalan hidup saya dengan luar biasa; dan saya, hanya perlu menjalani jalan yang Ia tentukan dan belajar dalam setiap langkah yang saya ambil. Dan Papi J, dengan begitu luar biasanya... memberikan saya keluarga terbaik yang bisa dimiliki oleh seorang anak, karena apapun langkah dan keputusan yang saya ambil, Papi J dan keluarga saya, dimanapun mereka berada, akan selalu mendukung saya dan memeluk setiap kali butuh pelukan.

Jadi, yang saya lakukan sekarang adalah : menegakkan kepala, memantapkan langkah, memohon berkat dari orang-orang yang saya sayangi, dan percaya bahwa jalan yang saya ambil adalah jalan terbaik, tidak akan ada bahaya dan malapetaka yang menimpa saya karena Ia yang memilihkan jalanan untuk saya.


Cheers,
Amel


P.s : peluk sayang untuk Papa, Mama, Adit, Andin, keluarga di Jakarta, Iva, Memet, Mbak Wulan, Ines, Endang, Om Iwan, Om Sam serta entah siapa saja yang menyemangati saya dan membuat saya berani dalam menjalani keputusan ini.

“Karena jalanKu bukanlah jalanmu dan rancanganKu bukanlah rancanganmu...” (matur sembah nuwun, Gusti... Sujud syukur)