Sunday, June 27, 2021

Zero O' Clock


Jakarta, 27 June 2021

During so many nights of sleeping disorder, I try to listen some music. 
It was trial and error. 
I even make a playlist on my phone named "sleeping pills" 

It was include, Frank Sinatra's Moon River.
To Stand by Your Man by Clara Bruni. 

But, apparently only one song that makes my sleep better. 
So, I put it in reverse version so I can listen it all night. 
Somehow this song makes my sleep uninterupted, especially on the day when I didn't took any sleeping pills. 

The song is Zero O'Clock by BTS. 

It surprisingly makes me calm, drop down my heart rate on normal scale. 
And reduce my overthinking. 
It makes me so curious so I start googling, if there is any scientific explanation between this song that calm my nerves. 
And yes, there is scientific explanation by psychiatrist about why this song so comfort. 

I hope you find calm like I did with this song. 

Cheers, 
Amel

 

A Journey To Love Myself



Jakarta, 27 June 2021

2020 was a hard year for me.
Despite of the pandemic situation where everyone need to adjust.
A job that might be more demanding than before.

And that’s when I was fell down into depression and anxiety disorders.

This is what happens to me.
I do my job, laugh and talk with my colleague and friends – but in the end of the day, I set my room in the coldest temperature put the lights off and sometime I just sit quietly or crying without any reasons.

I talk to a doctor, he said I got a mild depression, give me some medicine – I think it supposed to help me, but it’s not. So, I don’t go to the doctor anymore.

I have trouble sleeping, the common sleeping pills didn’t help me at all, even though I double the dosis.
I didn’t go anywhere, only go around my apartment area to bought food or my daily needs.
I didn’t want to talk to anyone. I didn’t want to meet anyone.
Then, from someone who have sleep disorder, I turn to someone who sleeps a lot.
I’ve done my works at 8 AM – 7 PM, then I go sleep – Every. Single. Day.

I remember, it was in the end of October 2020, there was a long weekend.
I have like 4-5 days off. And I was sleeping and crying on repeat at that time.
I’m not taking a bath. I barely eat. I think I lost weight for several kilos at that time.

My chest hurts so much. I have trouble breathing.

Then, one of my friends sending me a message in the instagram.
He just said, “Hey, how are you? I hope you are alright. Please take care of yourself ya.”
And I’m crying read his message.

He didn’t know what I’ve been through.
He just sending me that messages – that turns out to be my wake up call.

I wake up with tangled hair.
Trembling.
I was thinking – what the hell am I doing?

So, I took my first step,
I took a long shower.
I remember, I was just stand below cold water for maybe 15-30 minutes, crying and thinking – what do I do? What do I do now? Continuously.

After that, I decide to go outside and walk.
It was cold, crisp and almost dusk on early November.
I took a deep breath while walking.
Just walk and later on trying to choose my meals for dinners.

I was out for almost 30 minutes that day.
Then I took a paper and pen, write down what I want.
It was a scary experience for me.

I was alone in the apartment.
The thought to just end everything come and go.
But, I was too scared to die.
There is too many responsibility that needs to be done.

I don’t remember much about what I do after that day.
The depression state still come and go. But not as bad as before.

One day I told my friends that I want to make a phoenix tattoo as a reminder that I’m strong and even though from dust, I still can rise again.
An idea that already stay on my mind since 2011.
Since my friends also love tattoo, I suggest to have a match tattoo with her.
We’ve come to several ideas – from our zodiac symbol, our birth flower month (yes, we have same birth month and zodiac.. hahahha) and other tattoo idea.  

Then, she come with the idea with this tattoo.
A love yourself journey tattoo – you, ARMY must know this symbol, hahahaha..
And I think, this is the perfect tattoo for us.

Both of us have quite challenging 2020, but we hope that 2021 will brings new happy journey.
But, no matter how far journey that we take, the most important journey is always a journey to find ourselves.
A message that I want to remember everyday. 
Because I often forgot this kind of important message that leads to losing myself. 

This journey still ongoing with me.
But, with the simple reminder through this tattoo, I have a daily reminder that myself – my mental and physical health, who I am is the most important things before I taking care of other people or other matters.

So, have you love yourself?

Because in the end of the day, you will end up with yourself.
Love yourself, first and foremost.


Cheers,
Amel

 
P.s : Nope, this is not a picture of mine, I download it from the internet. But, yes, we use this design for our tattoo. 

 


 

Writing Again

Jakarta, June 27, 2021 

It’s been a long time since I sit down and writing something. 

Yes, I always give busy excuse to avoid writing. 
Thinking again, it was my excuse lately. 
Maybe, I do really busy of all schedules I have (my google calendar hold that proof). 
Or it’s just a matter of time management. 
I really don’t know. 

A few weeks ago, my brother reshared a post in instagram – which I totally forgot to save it. 
It said that if you want to know what’s on your mind, what really bothering you, go write. 
In the past few years, I think my head is full of haze. 
I lost myself on the daily basis, suffering from it – directly to my mental health. 

Read the post about writing, I realize that I didn’t write for several years. 
I don’t think that 1 or 2 post is really something – compare to what I do during 2011-2014. 
That time, I think that was the most insane time I feel for myself.

So, I decided to write again. 

I will just write, read it once then post it. 
Overthinking leads to over criticism of myself. 
If you come to this blog, then you should understand that all of the post are purely coming directly from the chaos of my mind to the tip of my finger. 
It might be something inspiring, something depressing, gibberish or even anger and rage. 

Since it’s something personal for me – you are very welcome to see my mayhem thought. 
You are free to come and read. 
And leave. 
Without coercion. 
No judgement, I don’t need any judgement from your side. 

Welcome to my blog. 

Cheers, 
Amel

Friday, February 1, 2019

Menulis




Mataram, 1 Februari 2019


Malam dingin sehabis hujan sepuluh menit yang mengguyur Mataram. Tulisan ini terpikir oleh saya ketika baru saja menyaksikan video youtube Adipati Dolken yang memajang Banyuwangi dengan begitu cantik dan narasi luar biasa.


Kemudian saya teringat tentang blog pribadi saya yang saya kunjungi beberapa hari lalu.


Sebagai orang yang mendadak random, di tengah kesibukan saya menulis proposal, saya teringat blog saya. Benak saya mengatakan, “pengen liat blog terus ganti warnanya deh.” Ketika masuk ke laman tersebut, saya tersadar, tulisan saya yang terakhir adalah 1.5 tahun yang lalu di 2017. Dan tidak ada sebuah tulisan pun di tahun yang pernah lewat kemarin.


Saya bisa mengemukakan banyak hal sebagai alasan. Tetapi, jauh di lubuk hati saya, satu-satunya hal yang membuat saya tidak menulis adalah rasa malas.


Menulis merupakan sebuah terapi buat saya. Buat saya, kaki saya bisa membawa kemana pun saya ingin pergi, ke tempat termahal, terindah, terhits, dan tempat-tempat ter- lainnya. Tapi, pada akhirnya, segala jenuh dan lelah itu hanya berada di dalam kepala saya; dan satu-satunya hal yang bisa membuat saya melupakan itu semua adalah dengan menulis.


Sama seperti membaca, menulis adalah hal yang diajarkan oleh Ayah saya. Beliau sendiri seorang penulis yang rajin menyumbangkan tulisan-tulisannya di media cetak. Ya, media cetak. Saya tidak pernah membaca tulisan-tulisan beliau, karena tidak pernah tahu dimana saja beliau menulis; yang saya tahu, saya akan ditraktir beli es krim dari amplop yang diterima beliau melalui wesel.


Beberapa kali saya mencoba menulis mengenai beberapa hal sejak bulan Januari yang lalu. Tapi saya tak pernah puas. Buat saya, selalu ada yang janggal dan salah dalam tulisan yang sudah diketik tersebut. Beberapa panjang, beberapa hanya sebaris kalimat, beberapa hanya judul. Ada yang tersimpan, lebih banyak yang akhirnya saya buang dengan penuh kesadaran.


Menonton video tentang Indonesia tersebut dan terpikir tentang tulisan ini, membuat saya menyadari satu hal : saya terlalu banyak berpikir.


Ya, tulisan yang baik adalah tulisan yang terkonsep dengan baik. Tulisan yang dilandasi dengan logika berpikir yang baik. Tapi saya lupa, tentang alasan saya menulis.


Menulis buat saya adalah mengeluarkan kata dan kalimat yang begitu penuh dan menyesakkan di pikiran saya; yang terkadang sudah terjalin begitu rapat, ruwet dan pada akhirnya sulit untuk terurai.


Ini adalah tulisan pertama saya di 2019.
Tulisan yang tidak akan saya edit lagi sebelum saya posting di blog dan sosial media saya.
Tulisan yang mudah-mudahan menjadi awal untuk ide-ide yang selama ini saya kungkung dalam pikiran saya atas nama kemalasan.


Cheers,
Amelia

Monday, August 14, 2017

Tentang Mereka Yang Mencintai Laut




 
Dengarkan sebuah cerita tentang keempat sahabat.

Mereka yang mengayuh sampan sederhana mereka
Mengikuti arus yang membawa mereka menjauhi pantai
Namun mereka tak pernah khawatir
Karena mereka tahu, laut akan berbaik hati

Mereka yang membiarkan mentari membakar
Setiap jengkal kulit yang terpapar
Namun mereka hanya tertawa
Karena mereka tahu, sang surya hanya memberikan kebaikan

Mereka yang berteriak riang ketika ombak menghempas
Membalikkan sampan sederhana mereka
Namun mereka tidak takut
Karena mereka tahu, ombak hanya bermain dengan mereka

Betapa mereka begitu percaya bahwa alam begitu baik
Membiarkan mereka bermain sesuka hati
Menarik, membakar, menghempas
Bergembira dengan sesama pecinta laut hingga mereka kelelahan

Dan ketika matahari berpamit pulang
Mereka duduk di tepian
Membiarkan angin membasuh ombak dan buih dari tubuh mereka
Namun tetap meninggalkan jejak aroma laut
Untuk mereka yang begitu mencintai lautan


…

Mataram, 14 Agustus 2017

Saya tertarik dengan keempat anak yang menghabiskan berjam-jam siang itu bermain di lautan dengan sebuah kano yang mereka pinjam. Mereka begitu gembira bermain dengan peralatan sederhana, murni hanya mengandalkan insting anak-anak mereka dan kebaikan laut.

Dan dari mereka saya diingatkan, bahwa kadang menjalani atau melihat sesuatu yang sederhana, dan menikmatinya; dapat mengisi semua rongga kosong yang mungkin ada dalam diri saya.

Cheers,
Amelia




Perjalanan dengan Seribu Cerita



Mataram, 14 Agustus 2017

Menulis di tengah meja yang berantakan, masih ditemani Payung Teduh dan suasana kantor yang perlahan sepi.

Saya baru saja kembali dari toko buku ternama di pusat kota, resminya sih untuk mencari kertas sticker transparan yang diminta oleh bos saya. Tenang saja, saya pergi selewat jam kantor kok. Lantas, kenapa kembali? Karena ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan dan otak saya sudah kelewat penuh untuk meneruskan pekerjaan hari ini.

Berangkat dengan cara nebeng teman yang searah dengan rute perjalanan pulangnya, saya diturunkan di depan toko buku tersebut. Mencari kertas dan menginformasikan kepada atasan saya sebenarnya tidak lebih dari 15 menit, tapi sebagai fakir buku saya tentu saja berputar hingga lewat satu jam di lantai atas. Menemukan beberapa buku dengan alinea yang menohok kehidupan saya akhir-akhir ini, namun itu cerita di lain hari.

Yang menarik adalah, cerita kali ini justru saya temukan di akhir perjalanan ini. Ketika saya akan kembali ke kantor.

Ojek online. Siapa sih yang hari gini belum menggunakan moda transportasi ini. Bukan atas nama kekinian, tetapi lebih dilihat dari segi praktisnya. Apalagi, selama berada di kota ini, saya tidak punya alat transportasi. Sehingga sehari-hari saya mengandalkan jasa ojek online ini. Ada banyak cerita menarik yang saya dapatkan hampir di setiap perjalanan, tak terkecuali kali ini.

Hari ini, pengemudi saya bernama Pak Khairuddin. Ini kali kedua saya diantar oleh beliau. Ketika sudah bertemu, dia langsung menyapa dengan, “Wah, mbaknya.. saya pernah ngantar mbak lo, mungkin mbak sudah nggak ingat.” Dan saya menjawab, “Ingeeettt dong, Pak..” Sebagai catatan, jangan menganggap Mataram sebagai kota besar, kota ini tergolong kecil dan jumlah pengemudi ojek online belum sebanyak di ibukota atau mungkin kota asal saya. Jadi, sapaan dari babang gojek itu hamper biasa.. kadang menjadi terkenal itu memang sederhana dikenali bapak-bapak gojek, hahaha.

Setelah saya naik, saya menanyakan kabar istrinya yang berjualan di pasar. Pak Khairudin menjelaskan bahwa sekarang dia pengemudi gojek full time karena istrinya fokus mengurus anak perempuannya yang baru saja masuk SD. Kemudian saya menanyakan perihal anak-anaknya, dan dia menceritakan tentang putra-putranya yang telah masuk usia remaja dan dewasa. Hingga mengalirlah kekhawatirannya mengenai putra sulungnya yang perlahan meninggalkan bangku kuliah yang sudah di semester akhir, karena lebih sering berkumpul dengan teman-temannya. “Luntang lantung nggak jelas, mbak, udah jarang pulang,” demikian dia mengakhiri ceritanya dengan nada sedikit sedih.

Kemudian saya teringat kedua orang tua saya.

Cerita tersebut bukan lagi sesuatu yang baru buat saya. Bandel saya di jaman kuliah mungkin kurang lebih sama dengan anak Pak Khairuddin. Sampai saya molor skripsi 2 tahun hanya karena malas mengerjakan tugas akhir tersebut. Pikiran saya waktu itu : halah, duit sekolah nggak terlalu mahal ini. What an asshole, right? Saya lupa, bahwa uang sekolah yang tidak seberapa itu dicari dengan susah payah oleh kedua orang tua saya. Sekarang, ketika saya merasakan sendiri bagaimana rasanya mencari uang sendiri, ingin rasanya kembali ke jaman tersebut dan menjewer telinga saya.

Pertemuan saya dengan Pak Khairuddin ini seperti menampar saya.

Betapa banyak orang tua saya sudah berkorban untuk saya, untuk sesuatu yang dulunya saya anggap sepele. Betapa hari ini saya baru menyadari, betapa kedua orang tua saya, dengan cara mereka sendiri, membuat saya menikmati masa muda saya; tanpa saya menyadari betapa itu semua sebenarnya saya lakukan di atas segala keringat dan jerih payah mereka. Betapa seringkali, tanpa saya sadari, saya menyakiti kedua orang tua saya dengan keegoisan saya, mengatasnamakan slogan : hidup hanya sekali, harus dinikmati sebisanya.

Mendengarkan Pak Khairuddin bercerita mengenai putranya, saya hanya bisa mengatakan kepadanya untuk sabar dan mendoakan supaya putranya akan belajar banyak hal tentang kehidupan bersama teman-temannya sehingga menjadi sosok yang tangguh dan sukses ketika dihadapkan oleh kehidupan.

Berkaca kembali, saya sangat beruntung, karena kedua orang tua saya masih lengkap. Dan, saya berharap saya bisa membahagiakan mereka seperti mereka membahagiakan saya tanpa tetapi.

Ini cerita perjalanan saya kali ini. Apa ceritamu?


Cheers,
Amelia 

Friday, August 11, 2017

Energi Positif



Mataram, 11 Agustus 2017

Tulisan pertama setelah hampir satu tahun tidak menulis. Ditulis menjelang tengah malam di pulau bagian tengah Indonesia. Diiringi Payung Teduh.  

Beberapa waktu belakangan saya merasa menjalani hidup seperti robot. Bangun, bekerja, pulang. Tidak ada lagi gairah untuk menjalankan sebuah proyek baru ataupun menulis seperti ini. Hal ini menjadi semakin terasa ketika saya berlibur selama 4 hari, dan hal-hal kecil yang biasanya akan membuat saya tersenyum, kembali bersemangat dan bahagia, tetap tidak bisa mengenyahkan apa yang saya rasakan.

Dan saya panik.

Bagi saya - seseorang yang mengagungkan kekuatan dari mimpi-mimpi dan kemungkinan untuk meraih apa yang saya inginkan, dimana mengumpulkan hal-hal kecil yang menjadi sumber kebahagiaan adalah hal yang mudah; tidak bisa menjadi bahagia adalah kutukan tersendiri. Saya menjadi bagian dari sebagian besar orang yang terperangkap dalam kepalanya sendiri.

Dan saya ketakutan.

Terperangkap dalam kepala kita sendiri. Terkutuk karena segala ketakutan yang tidak dapat dijelaskan dan tidak dapat tersampaikan berkutat dan bergumul dalam kepala kita, tempat penyimpanan tak terbatas.

Sampai saya secara tidak sengaja bertemu dengan salah satu sosok yang saya kagumi di bandara. Sambil menunggu adik saya yang sedang mendaftarkan dirinya untuk menaiki pesawat pulang. 

Saya bertemu dengan Mbok Ni Luh Djelantik. Sosok luar biasa yang mengilhami begitu banyak orang, baik sebagai perempuan bisnis dan juga pecinta kebhinekaan yang tidak kenal lelah dan takut. Tetapi, saya begitu mengagumi beliau karena dia memanusiakan manusia dalam setiap cerita yang dia bagi di sosial medianya.

Singkat kata, saya meminta Mbok Niluh berfoto bersama. Dengan senyuman yang khas, beliau menyetujui permintaan saya, dengan pose merangkul pundak, foto kami diambil dalam 3 kali jepretan. Setelah itu, sambil mengucapkan terima kasih, beliau menanyakan nama saya dan memperkenalkan suaminya. Gestur sederhana yang memvalidasi bayangan saya tentang sosok Mbok Niluh. Kemudian, mereka pamit untuk pulang ke Bali sambil mengatakan bahwa saya harus selalu menjaga kesehatan.

Pertemuan kami tidak sampai 5 menit.
Akan tetapi begitu membekas dalam ingatan saya meskipun sudah berlalu lebih dari 30 hari yang lalu.

Dan ketika saya menyetir pulang, saya menyadari satu hal.
Saya bahagia.

Sesederhana itu.

Perasaan hangat dan positif berada dalam dada saya dan menyebar.
Perasaan bahwa saya bisa melalui hal apapun yang ada di hadapan saya. Bahwa apapun mimpi yang saya miliki bisa terjadi.

Dalam perjalanan selama 60 menit itu, sambil sesekali berhenti untuk memotret senja di sepanjang jalan tersebut, saya menyadari, bahwa saya begitu terserap pada hal-hal negatif yang ada di sekeliling saya. Betapa kepalsuan dan sikap egois yang ada di sekeliling saya menyerap habis harapan dan pikiran positif yang selama ini begitu mudah saya munculkan. Dan yang paling menyedihkan adalah, saya tidak mengucapkan rasa syukur yang selama ini begitu mudah saya ungkapkan. Saya terlalu tersedot dalam sesuatu yang begitu kelam dan melupakan mengenai hal-hal kecil sumber kebahagiaan yang selama ini menjadi bahan bakar saya untuk menjalani hari dengan mengucap syukur. Sesuatu yang sederhana namun begitu penting dalam menjalani situasi yang sedang saya hadapi.

A boost of positive energy.
Sesuatu yang terlihat sepele namun ternyata bisa membuat saya lebih tegar dalam menjalani keseharian saya.

Dan saya berharap, suatu hari nanti saya bisa menjadi energi positif bagi orang lain.
Dan bagi yang membaca tulisan ini, semoga anda selalu diberkahi energi positif kemanapun anda berada.

Cheers,
Amelia