Sunday, June 27, 2021

Writing Again

Jakarta, June 27, 2021 

It’s been a long time since I sit down and writing something. 

Yes, I always give busy excuse to avoid writing. 
Thinking again, it was my excuse lately. 
Maybe, I do really busy of all schedules I have (my google calendar hold that proof). 
Or it’s just a matter of time management. 
I really don’t know. 

A few weeks ago, my brother reshared a post in instagram – which I totally forgot to save it. 
It said that if you want to know what’s on your mind, what really bothering you, go write. 
In the past few years, I think my head is full of haze. 
I lost myself on the daily basis, suffering from it – directly to my mental health. 

Read the post about writing, I realize that I didn’t write for several years. 
I don’t think that 1 or 2 post is really something – compare to what I do during 2011-2014. 
That time, I think that was the most insane time I feel for myself.

So, I decided to write again. 

I will just write, read it once then post it. 
Overthinking leads to over criticism of myself. 
If you come to this blog, then you should understand that all of the post are purely coming directly from the chaos of my mind to the tip of my finger. 
It might be something inspiring, something depressing, gibberish or even anger and rage. 

Since it’s something personal for me – you are very welcome to see my mayhem thought. 
You are free to come and read. 
And leave. 
Without coercion. 
No judgement, I don’t need any judgement from your side. 

Welcome to my blog. 

Cheers, 
Amel

Friday, February 1, 2019

Menulis




Mataram, 1 Februari 2019


Malam dingin sehabis hujan sepuluh menit yang mengguyur Mataram. Tulisan ini terpikir oleh saya ketika baru saja menyaksikan video youtube Adipati Dolken yang memajang Banyuwangi dengan begitu cantik dan narasi luar biasa.


Kemudian saya teringat tentang blog pribadi saya yang saya kunjungi beberapa hari lalu.


Sebagai orang yang mendadak random, di tengah kesibukan saya menulis proposal, saya teringat blog saya. Benak saya mengatakan, “pengen liat blog terus ganti warnanya deh.” Ketika masuk ke laman tersebut, saya tersadar, tulisan saya yang terakhir adalah 1.5 tahun yang lalu di 2017. Dan tidak ada sebuah tulisan pun di tahun yang pernah lewat kemarin.


Saya bisa mengemukakan banyak hal sebagai alasan. Tetapi, jauh di lubuk hati saya, satu-satunya hal yang membuat saya tidak menulis adalah rasa malas.


Menulis merupakan sebuah terapi buat saya. Buat saya, kaki saya bisa membawa kemana pun saya ingin pergi, ke tempat termahal, terindah, terhits, dan tempat-tempat ter- lainnya. Tapi, pada akhirnya, segala jenuh dan lelah itu hanya berada di dalam kepala saya; dan satu-satunya hal yang bisa membuat saya melupakan itu semua adalah dengan menulis.


Sama seperti membaca, menulis adalah hal yang diajarkan oleh Ayah saya. Beliau sendiri seorang penulis yang rajin menyumbangkan tulisan-tulisannya di media cetak. Ya, media cetak. Saya tidak pernah membaca tulisan-tulisan beliau, karena tidak pernah tahu dimana saja beliau menulis; yang saya tahu, saya akan ditraktir beli es krim dari amplop yang diterima beliau melalui wesel.


Beberapa kali saya mencoba menulis mengenai beberapa hal sejak bulan Januari yang lalu. Tapi saya tak pernah puas. Buat saya, selalu ada yang janggal dan salah dalam tulisan yang sudah diketik tersebut. Beberapa panjang, beberapa hanya sebaris kalimat, beberapa hanya judul. Ada yang tersimpan, lebih banyak yang akhirnya saya buang dengan penuh kesadaran.


Menonton video tentang Indonesia tersebut dan terpikir tentang tulisan ini, membuat saya menyadari satu hal : saya terlalu banyak berpikir.


Ya, tulisan yang baik adalah tulisan yang terkonsep dengan baik. Tulisan yang dilandasi dengan logika berpikir yang baik. Tapi saya lupa, tentang alasan saya menulis.


Menulis buat saya adalah mengeluarkan kata dan kalimat yang begitu penuh dan menyesakkan di pikiran saya; yang terkadang sudah terjalin begitu rapat, ruwet dan pada akhirnya sulit untuk terurai.


Ini adalah tulisan pertama saya di 2019.
Tulisan yang tidak akan saya edit lagi sebelum saya posting di blog dan sosial media saya.
Tulisan yang mudah-mudahan menjadi awal untuk ide-ide yang selama ini saya kungkung dalam pikiran saya atas nama kemalasan.


Cheers,
Amelia

Monday, August 14, 2017

Tentang Mereka Yang Mencintai Laut




 
Dengarkan sebuah cerita tentang keempat sahabat.

Mereka yang mengayuh sampan sederhana mereka
Mengikuti arus yang membawa mereka menjauhi pantai
Namun mereka tak pernah khawatir
Karena mereka tahu, laut akan berbaik hati

Mereka yang membiarkan mentari membakar
Setiap jengkal kulit yang terpapar
Namun mereka hanya tertawa
Karena mereka tahu, sang surya hanya memberikan kebaikan

Mereka yang berteriak riang ketika ombak menghempas
Membalikkan sampan sederhana mereka
Namun mereka tidak takut
Karena mereka tahu, ombak hanya bermain dengan mereka

Betapa mereka begitu percaya bahwa alam begitu baik
Membiarkan mereka bermain sesuka hati
Menarik, membakar, menghempas
Bergembira dengan sesama pecinta laut hingga mereka kelelahan

Dan ketika matahari berpamit pulang
Mereka duduk di tepian
Membiarkan angin membasuh ombak dan buih dari tubuh mereka
Namun tetap meninggalkan jejak aroma laut
Untuk mereka yang begitu mencintai lautan



Mataram, 14 Agustus 2017

Saya tertarik dengan keempat anak yang menghabiskan berjam-jam siang itu bermain di lautan dengan sebuah kano yang mereka pinjam. Mereka begitu gembira bermain dengan peralatan sederhana, murni hanya mengandalkan insting anak-anak mereka dan kebaikan laut.

Dan dari mereka saya diingatkan, bahwa kadang menjalani atau melihat sesuatu yang sederhana, dan menikmatinya; dapat mengisi semua rongga kosong yang mungkin ada dalam diri saya.

Cheers,
Amelia




Perjalanan dengan Seribu Cerita



Mataram, 14 Agustus 2017

Menulis di tengah meja yang berantakan, masih ditemani Payung Teduh dan suasana kantor yang perlahan sepi.

Saya baru saja kembali dari toko buku ternama di pusat kota, resminya sih untuk mencari kertas sticker transparan yang diminta oleh bos saya. Tenang saja, saya pergi selewat jam kantor kok. Lantas, kenapa kembali? Karena ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan dan otak saya sudah kelewat penuh untuk meneruskan pekerjaan hari ini.

Berangkat dengan cara nebeng teman yang searah dengan rute perjalanan pulangnya, saya diturunkan di depan toko buku tersebut. Mencari kertas dan menginformasikan kepada atasan saya sebenarnya tidak lebih dari 15 menit, tapi sebagai fakir buku saya tentu saja berputar hingga lewat satu jam di lantai atas. Menemukan beberapa buku dengan alinea yang menohok kehidupan saya akhir-akhir ini, namun itu cerita di lain hari.

Yang menarik adalah, cerita kali ini justru saya temukan di akhir perjalanan ini. Ketika saya akan kembali ke kantor.

Ojek online. Siapa sih yang hari gini belum menggunakan moda transportasi ini. Bukan atas nama kekinian, tetapi lebih dilihat dari segi praktisnya. Apalagi, selama berada di kota ini, saya tidak punya alat transportasi. Sehingga sehari-hari saya mengandalkan jasa ojek online ini. Ada banyak cerita menarik yang saya dapatkan hampir di setiap perjalanan, tak terkecuali kali ini.

Hari ini, pengemudi saya bernama Pak Khairuddin. Ini kali kedua saya diantar oleh beliau. Ketika sudah bertemu, dia langsung menyapa dengan, “Wah, mbaknya.. saya pernah ngantar mbak lo, mungkin mbak sudah nggak ingat.” Dan saya menjawab, “Ingeeettt dong, Pak..” Sebagai catatan, jangan menganggap Mataram sebagai kota besar, kota ini tergolong kecil dan jumlah pengemudi ojek online belum sebanyak di ibukota atau mungkin kota asal saya. Jadi, sapaan dari babang gojek itu hamper biasa.. kadang menjadi terkenal itu memang sederhana dikenali bapak-bapak gojek, hahaha.

Setelah saya naik, saya menanyakan kabar istrinya yang berjualan di pasar. Pak Khairudin menjelaskan bahwa sekarang dia pengemudi gojek full time karena istrinya fokus mengurus anak perempuannya yang baru saja masuk SD. Kemudian saya menanyakan perihal anak-anaknya, dan dia menceritakan tentang putra-putranya yang telah masuk usia remaja dan dewasa. Hingga mengalirlah kekhawatirannya mengenai putra sulungnya yang perlahan meninggalkan bangku kuliah yang sudah di semester akhir, karena lebih sering berkumpul dengan teman-temannya. “Luntang lantung nggak jelas, mbak, udah jarang pulang,” demikian dia mengakhiri ceritanya dengan nada sedikit sedih.

Kemudian saya teringat kedua orang tua saya.

Cerita tersebut bukan lagi sesuatu yang baru buat saya. Bandel saya di jaman kuliah mungkin kurang lebih sama dengan anak Pak Khairuddin. Sampai saya molor skripsi 2 tahun hanya karena malas mengerjakan tugas akhir tersebut. Pikiran saya waktu itu : halah, duit sekolah nggak terlalu mahal ini. What an asshole, right? Saya lupa, bahwa uang sekolah yang tidak seberapa itu dicari dengan susah payah oleh kedua orang tua saya. Sekarang, ketika saya merasakan sendiri bagaimana rasanya mencari uang sendiri, ingin rasanya kembali ke jaman tersebut dan menjewer telinga saya.

Pertemuan saya dengan Pak Khairuddin ini seperti menampar saya.

Betapa banyak orang tua saya sudah berkorban untuk saya, untuk sesuatu yang dulunya saya anggap sepele. Betapa hari ini saya baru menyadari, betapa kedua orang tua saya, dengan cara mereka sendiri, membuat saya menikmati masa muda saya; tanpa saya menyadari betapa itu semua sebenarnya saya lakukan di atas segala keringat dan jerih payah mereka. Betapa seringkali, tanpa saya sadari, saya menyakiti kedua orang tua saya dengan keegoisan saya, mengatasnamakan slogan : hidup hanya sekali, harus dinikmati sebisanya.

Mendengarkan Pak Khairuddin bercerita mengenai putranya, saya hanya bisa mengatakan kepadanya untuk sabar dan mendoakan supaya putranya akan belajar banyak hal tentang kehidupan bersama teman-temannya sehingga menjadi sosok yang tangguh dan sukses ketika dihadapkan oleh kehidupan.

Berkaca kembali, saya sangat beruntung, karena kedua orang tua saya masih lengkap. Dan, saya berharap saya bisa membahagiakan mereka seperti mereka membahagiakan saya tanpa tetapi.

Ini cerita perjalanan saya kali ini. Apa ceritamu?


Cheers,
Amelia 

Friday, August 11, 2017

Energi Positif



Mataram, 11 Agustus 2017

Tulisan pertama setelah hampir satu tahun tidak menulis. Ditulis menjelang tengah malam di pulau bagian tengah Indonesia. Diiringi Payung Teduh.  

Beberapa waktu belakangan saya merasa menjalani hidup seperti robot. Bangun, bekerja, pulang. Tidak ada lagi gairah untuk menjalankan sebuah proyek baru ataupun menulis seperti ini. Hal ini menjadi semakin terasa ketika saya berlibur selama 4 hari, dan hal-hal kecil yang biasanya akan membuat saya tersenyum, kembali bersemangat dan bahagia, tetap tidak bisa mengenyahkan apa yang saya rasakan.

Dan saya panik.

Bagi saya - seseorang yang mengagungkan kekuatan dari mimpi-mimpi dan kemungkinan untuk meraih apa yang saya inginkan, dimana mengumpulkan hal-hal kecil yang menjadi sumber kebahagiaan adalah hal yang mudah; tidak bisa menjadi bahagia adalah kutukan tersendiri. Saya menjadi bagian dari sebagian besar orang yang terperangkap dalam kepalanya sendiri.

Dan saya ketakutan.

Terperangkap dalam kepala kita sendiri. Terkutuk karena segala ketakutan yang tidak dapat dijelaskan dan tidak dapat tersampaikan berkutat dan bergumul dalam kepala kita, tempat penyimpanan tak terbatas.

Sampai saya secara tidak sengaja bertemu dengan salah satu sosok yang saya kagumi di bandara. Sambil menunggu adik saya yang sedang mendaftarkan dirinya untuk menaiki pesawat pulang. 

Saya bertemu dengan Mbok Ni Luh Djelantik. Sosok luar biasa yang mengilhami begitu banyak orang, baik sebagai perempuan bisnis dan juga pecinta kebhinekaan yang tidak kenal lelah dan takut. Tetapi, saya begitu mengagumi beliau karena dia memanusiakan manusia dalam setiap cerita yang dia bagi di sosial medianya.

Singkat kata, saya meminta Mbok Niluh berfoto bersama. Dengan senyuman yang khas, beliau menyetujui permintaan saya, dengan pose merangkul pundak, foto kami diambil dalam 3 kali jepretan. Setelah itu, sambil mengucapkan terima kasih, beliau menanyakan nama saya dan memperkenalkan suaminya. Gestur sederhana yang memvalidasi bayangan saya tentang sosok Mbok Niluh. Kemudian, mereka pamit untuk pulang ke Bali sambil mengatakan bahwa saya harus selalu menjaga kesehatan.

Pertemuan kami tidak sampai 5 menit.
Akan tetapi begitu membekas dalam ingatan saya meskipun sudah berlalu lebih dari 30 hari yang lalu.

Dan ketika saya menyetir pulang, saya menyadari satu hal.
Saya bahagia.

Sesederhana itu.

Perasaan hangat dan positif berada dalam dada saya dan menyebar.
Perasaan bahwa saya bisa melalui hal apapun yang ada di hadapan saya. Bahwa apapun mimpi yang saya miliki bisa terjadi.

Dalam perjalanan selama 60 menit itu, sambil sesekali berhenti untuk memotret senja di sepanjang jalan tersebut, saya menyadari, bahwa saya begitu terserap pada hal-hal negatif yang ada di sekeliling saya. Betapa kepalsuan dan sikap egois yang ada di sekeliling saya menyerap habis harapan dan pikiran positif yang selama ini begitu mudah saya munculkan. Dan yang paling menyedihkan adalah, saya tidak mengucapkan rasa syukur yang selama ini begitu mudah saya ungkapkan. Saya terlalu tersedot dalam sesuatu yang begitu kelam dan melupakan mengenai hal-hal kecil sumber kebahagiaan yang selama ini menjadi bahan bakar saya untuk menjalani hari dengan mengucap syukur. Sesuatu yang sederhana namun begitu penting dalam menjalani situasi yang sedang saya hadapi.

A boost of positive energy.
Sesuatu yang terlihat sepele namun ternyata bisa membuat saya lebih tegar dalam menjalani keseharian saya.

Dan saya berharap, suatu hari nanti saya bisa menjadi energi positif bagi orang lain.
Dan bagi yang membaca tulisan ini, semoga anda selalu diberkahi energi positif kemanapun anda berada.

Cheers,
Amelia

Tuesday, November 8, 2016

N.G.A.M.B.E.K


Malang 8 November 2016
Sore ini saya mendapatkan pesan singkat dari rekan kerja yang mengatakan bahwa salah satu kolega kami bingung karena pesannya tak kunjung saya balas, dia takut saya ngambek.
Pesan singkat di penghujung hari ini membuat saya terdiam menatap layar telepon seluler saya cukup lama sambil membaca kata demi kata yang ada. Namun, dari kesuluruhan kalimat tersebut, yang membuat saya merasa emosional adalah kata terakhir yang tertulis disana, ngambek.
Entah karena kelelahan karena aktivitas saya beberapa hari terakhir atau sesederhana saya terlalu banyak berpikir dan imajinasi yang sangat aktif, kata tersebut membuat saya – entahlah, perpaduan antara rasa tersinggung dan marah. Sesederhana itu. Saya selalu takjub bagaimana kadang penggunaan satu kata bisa memiliki arti yang berbeda dan memancing emosi yang beragam pula dari seseorang. Semacam penggunaan kata ‘pakai’ yang sedang ramai dibicarakan di sosial media hari-hari terakhir ini Buat saya, sekali lagi, buat saya ya. Saya pun tidak menemukan definisi panjang lebar mengenai kata ngambek di KBBI. Definisi kata ini hanya satu, marah. Purik, nek jare wong jowo. Tapi, saya seringkali mendapati kata ini digunakan dalam kalimat dimana subjek marah kepada pihak kedua karena alasan yang tidak masuk akal. Contoh : Budi (5 tahun) ngambek kepada orang tuanya karena tidak diijinkan membeli mainan yang harganya cukup mahal. Atau, pacarku ngambek karena aku terlambat menjemput dia. Entah mengapa, kebetulan saya selalu mendapati kata ini berada dalam kalimat yang membuat subjek dinilai terlalu kekanakan. Tapi, sekali lagi, ini hanya perasaan saya saja. Atau mungkin karena saya yang terlalu bawa perasaan menanggapi pesan singkat yang dikirimkan kolega saya tersebut melalui rekan kerja saya untuk saya. Nah, riweuh, khan?
Kembali ke pesan singkat yang saya baca di kantor sore ini, sebagai perempuan yang memegang salah satu posisi pembuat keputusan di dunia yang didominasi oleh laki-laki tersebut, entah mengapa kalimat tersebut seolah mendiskreditkan pengolahan informasi yang saya terima dari kolega saya dan beberapa pengalaman ingkar janji tidak profesional yang dilakukan selama ini. Seolah, saya, sebagai perempuan menanggapi suatu hal yang tidak profesional dengan berlebihan. Terlalu dibawa perasaan. Karena saya, sebagai kaum perempuan lebih menggunakan hati saya dalam mencerna informasi dibandingkan menggunakan logika. Mungkin, itu pula penyebabnya, mengapa kolega kami menghubungi rekan kerja saya yang notabene lelaki untuk bisa menjelaskan kepada saya, cara mencerna informasi menggunakan logika, tanpa terlalu baper. Menyetir pulang sore ini, sambil menerobos hujan yang mengguyur, saya tertawa. Saya menertawakan beberapa orang yang memandang rendah kemampuan berpikir perempuan. Saya menertawakan bagaimana segelintir orang memandang sebuah janji hanya seutas kalimat tidak bermakna. Dan saya menertawakan diri saya yang bahkan bisa salah menilai perasaan saya sendiri dalam menanggapi sebuah kata yang disisipkan dalam sebuah kalimat bermakna ganda.
Karena ternyata saya tidak merasa tersinggung. Saya marah. Sangat.

Monday, December 14, 2015

Being Feminist


I know that most of those who read this article, starting from the title – especially man, will be rolling this eyes and probably said: here we go, the trash talk of female emancipation. 

Male and female will be arguing about this topics from time to time, it's an never ending topic. Wise man, will said – I'm agree to disagree.

Today, as usual, when looking for any inspiration for my career, through youtube, my fingers automatically type Anna Wintour. Brief explanation for all of you who didn't know, she is US Vogue's editor in chief since 1988; not only that, she also Creative Director of Conde Nast. And suddenly, I fall to Forbes video about this Powerful Woman

Feminist itself is a new word for me, but it's definitely not a new thing for me. At first, I've heard Beyonce sang Flawless for the first time, googling about Chimamanda Ngozi Adiche, watching her Tedx Talk about being feminist. After all of the search, I've realized that I'm a feminist.

I was raised by a smart-devoted mother and wife who juggling her life to raised her children, taking care of her family and also have a great 30 years career as a teacher. I also raised by a great-lovely-intellegent father who never obstruct my mother interest to teach, instead of detering her, my father is support my mother – while having a great career also as a teacher and part-time contributor in the literary magazine. And together, they make a great team to raised three of us, their children.

Raised in such great environment, I always thinking that as a woman, I'm able to having a great family and also amazing career in the same time.

Of course, this thought got challenges when I've started my university life and continue when I've been working back to my hometown. As half Javanese – half Flores – hundred percent Indonesian who raised with controversial though from the community who taught that as woman, I supposed to agreed to everything my spouse said, worshipped them, perform woman's function : as man's sex slave, giving birth and cooking.

Living as a free person who vocals and able to speak my mind makes me an alien in my own community.

But today, watch Anna Wintour, Arianna Huffington, Oprah Winfrey, Christine Lagarde, Ann Curry and many of powerful woman who said that as a woman, we always need support from the family and yes, as a working mother or woman, we still feel guilty if we have to left behind our family and especially our children to do our job; But, as a woman, we also have obligation to stick to what made us being passionate, our curiousity, keep on learning how to balancing everything while we also have to be stay true and comfortable in our own skin.

And for that, I feel blessed that as a woman to raised on a non-communal thought.

Yes, we're need man to complete us and walking side by side to complete both of our goals together. But, as a woman, we also have our own dream to be living on, same as man.

Because, as a woman, we are able to conquer any obstacle that come in our life path.

Cheers,
Amelia


Note : This article is dedicated to all woman: no matter what is your choice in life, you are brave and amazing. And especially, for my mother, you are the perfect example of a woman that a daughter can have. Thank you.