Tuesday, November 15, 2011

Ketika Biru Menangis Dan Aku Pun Menari




Sang Biru menggelap
Mengubah parasnya menjadi Sang Kelabu
Menumpahkan air matanya
Membasahi semua yang berada tanpa naungan di bawahnya
Dan aku pun menari di bawah cucuran air mata Sang Kelabu
Meneteskan air mataku sendiri yang tertutupi miliknya

.....

November 15, 2011
17.59

I'm crying, God..
With my eyes and my heart
I'm tired with all of this
Can you hug me for a moment?
And tell me that everything will be alright..

Friday, November 4, 2011

Percakapan Dengan Jingga..

Biru menatap aku dengan matanya yang tajam. Ia berkata, "sampai jumpa besok, jingga akan menggantikanku."

Aku mengangguk dan datanglah jingga, dengan perlahan. Anginnya yang meniup pelan, tapi tetap bisa mengobarkan rambutku kali ini. Tatapannya sedikit sendu,memperlihatkan sedikit warna kuning terang kepadaku.

Ia bertanya, "kamu masih menungguku? Tempat yang berbeda, tapi kamu masih tetap menungguku?"

"Ya," jawabku tegas.

"Sudah lebih dari setahun."

Dan ia kembali menatapku sendu.

"Aku tahu," kali ini hanya suara lirih yang keluar dari tenggorokanku.

"Rindumu sudah menumpuk disini. Menyesakkan. Mengetahui sudah terlampau banyak dan mulai berdebu. Tidakkah kau lelah?"

Aku menundukkan kepala.

"Tidakkah kau bosan?"

"Lelahkah kau bertukar tempat dengan biru setiap hari? Bosankah kau menyapaku dalam transisimu menjadi hitam?"

Dan kali ini, jingga terdiam.

Kuulurkan kembali rinduku padanya.

"Tolong simpankan ini untuknya. Suatu saat dia akan mengambilnya."

Jingga hanya tersenyum. Memahami. Karena ia tahu, aku bukan satu-satunya yang begitu. Ia hanya mengujiku. Ruangnya sangat luas untuk menyimpan semua rindu dariku, dan entah berapa banyak yang lain.

"Aku harus pergi," katanya.

"Aku mengerti," jawabku.

Dan jingga pun semakin memerah, sebelum berubah menjadi kelam. Memberiku kecupan di wajahku, dengan janji akan kembali besok.

...

Jakarta, 4 November 2011

08.05

Untuk #vleermuisman..
Siapa tahu kamu lupa. Rinduku kutitipkan kepada jingga. Selalu..
Ia hanya menunggumu, dengan sabar, hingga kau datang dan membukanya satu persatu..

Dan Mereka Jatuh Cinta.. Dalam Diam..

Tiara mendongakkan wajah dari buku yang dibacanya. Senyum tipis tersungging di bibirnya yang merah.

Diliriknya jam tangan.

14.25.

Selalu waktu yang sama di sabtu sore. Tidak pernah terlalu cepat. Tidak pernah terlalu lambat. Pas. Meskipun itu jam yang aneh. Lima menit kurang dari jam setengah tiga sore.

Lelaki dengan rambut tebal terpotong rapi, kemeja biru muda dan celana jins hitam. Ipad dengan pembungkus biru tua elegan. Dan tak lupa, tas kamera yang terlihat berat di bahunya.

Pesanannya : frappucinno, ice, tall. Akan didiamkan sekitar 10-15 menit sebelum disesap perlahan.

Lelaki itu akan menghabiskan minumannya sambil menggunakan gadget itu selama kurang lebih satu jam. Sebelum meninggalkan kedai kopi ternama itu.

Tiara senang mengamatinya. Ada sesuatu yang menyenangkan melihat lelaki itu memainkan ipadnya dengan serius, hingga terkadang mengerutkan kening.

Dan Tiara selalu ada disitu. Setiap sabtu pukul 14.25. Hanya untuk diam dan mengamatinya. Dan perlahan-lahan jatuh cinta.

...

Vrede mengusap keningnya yg sedikit berkeringat setelah memotret beberapa hal yang menarik dalam perjalanannya kemari. Tujuannya selalu satu. Segelas kopi dingin untuk Jakarta yang menyengat.

Ia sebenarnya tak suka kopi. Hanya menyukai suasana kedai kopi tersebut. Kopi pilihannya sama dengan kopi pertama yang dibelikan temannya bertahun-tahun yang lalu. Ketika ia pertama kali memasuki kedai ini. Tanpa pernah berubah. Dan ia memang tak ingin mencoba yang lain.

Matanya otomatis melirik ke kursi empuk di pojokan yang sedikit temaram. Dan disana ia melihat, seperti biasanya, gadis itu.

Dengan rambut merah yang sedikit menutupi wajahnya, kacamata tanpa frame dan salah satu kaki diletakkan sebagai alas duduknya di sofa, tampak nyaman di ruang yang sedikit temaram tersebut.

Ia suka mengamatinya membaca. Wajahnya yang berubah-ubah, terkadang serius, terkadang terkekeh kecil dan yang paling ia sukai, senyumnya yang sedikit miring. Terkadang gadis itu menulis. Tapi selalu ada ekspresi yang terlihat di wajahnya. Tanpa mempedulikan orang lain, seolah di dunianya sendiri.

Ia menyukainya. Menyukai semua ekspresi. Seandainya ia memiliki keberanian untuk mengeluarkan kameranya, berkenalan dan mengabadikan rautnya yang tak ternilai itu.

Tapi ia hanya mengamatinya dalam diam. Terkadang hanya meliriknya dari sudut wajah. Dan perlahan jatuh cinta tanpa tahu bagaimana mengungkapnya. Hanya mematrinya dalam memori..

...

Jakarta, November 4, 2011
1.34 am

P.s : Karena terkadang cinta tak perlu kata. Ia hanya membutuhkan satu pandangan, satu tatapan dan ia akan tahu. Hanya perlu hati yang merasa..

No Tittle

You..
You memorised things in picture
And I memorised thing in words..

You..
You like lousy music in your ears
And I.. I like silence and quirky music..

But I can picture us together..
And I really hope, you can find a words to write that I can't find..

Because with you..
I learn how to picture us in my mind..
I learn how to listening your favourite songs..

Not only because that's what you love..
Not only because that's your favourite songs..
But simply because I love you..

...
Jakarta, November 4, 2011
12.01 am
For you, #vleermuisman
As always..

Wednesday, October 19, 2011

Jakarta, Satu Kota.. Seribu Wajah.. Sejuta Cerita..


Jakarta. 18 Oktober 2011

Entah mengapa, entah bagaimana, saya selalu bisa membuat tulisan di kedai McDonalds ini. Meskipun ramai dengan mereka yang makan atau berlalu lalang. Malam ini saya ditemani gemerlap lampu mobil lampu mobil, gedung dan jalanan di pusat kota Jakarta dengan music yang berdentum dari Kylie Minogue.

Duduk di depan pintu memungkinkan saya untuk mengamati orang-orang yang berlalu lalang di sini. Ada pasangan yang berjalan bersisian dengan wajah datar dan mendekap tangan masing-masing di dada, entah mereka masih malu-malu atau sedang bertengkar. Ada sekelompok karyawati yang masuk ke restoran dengan tertawa-tawa, pulasan eyeliner mereka begitu tebal, memesan minuman ringan atau es krim. Atau, hey.. pasangan sesama jenis yang saling melingkarkan lengan di pinggang pasangannya, menurut saya mereka manis.

Beberapa kali saya membuat status atau twitter mengenai Jakarta. Yang paling sering saya tuliskan adalah : Jakarta.. Satu Kota… Seribu Wajah… Sejuta Cerita… Saya duduk di bangku ini kurang dari satu jam, mengamati orang-orang yang memasuki restoran ini atau mereka yang makan seorang diri (sama seperti saya dan entah mengapa terlihat salah tingkah) bahkan mereka yang bergegas di jalanan luar, yang terpisahkan hanya dengan selembar kaca. Wajah-wajah mereka menampilkan jutaan cerita. Mereka yang terlalu lelah untuk berpikir, mereka yang dimabuk cinta, mereka yang bergegas untuk janji pertemuannya, mereka yang menjalani hidup kesehariannya seperti robot, apapun.. Melalui mereka, Jakarta menampilkan wajahnya dan jutaan cerita yang dibawa.

Jakarta selalu menjadi kota yang menarik untuk saya. Tempat segala kesempatan terbuka, tempat segala jalan terbentang panjang namun dengan jurang dalam di sisi kanan dan kirinya; batasan surga dan neraka setipis kabut pagi. Semua ada dan tersedia. Di kota inilah tempat saya saat ini berkarya, jatuh cinta dan tempat seseorang yang saya cintai saat ini tinggal.

Saya tidak berjanji untuk tinggal di kota ini selamanya. Saya hanya suka mengamati denyutnya yang selalu cepat. Semua orang yang ada di sini harus berlari, semua orang berlomba menyamai detaknya yang kencang bila tak ingin terkalahkan. Banyak orang yang pada akhirnya bisa mengikuti arusnya, tapi lebih banyak lagi yang pada akhirnya terkalahkan dan tenggelam. Tapi sebenarnya, kota ini tak pernah terkalahkan. Hanya mereka yang pada akhirnya bisa mengikuti arusnya, yang bisa menyamai detaknya.

Satu kota, seribu wajah, jutaan cerita.. Tak pernah habis, akan selalu ada wajah baru, cerita baru dalam tiap kedipan mata. Selalu menarik untuk dilihat, dipelajari dan mungkin dirasa. Tentang mereka yang kelelahan, tentang mereka yang ambisius, tentang mereka yang mengejar sesuatu, tentang mereka yang sedang jatuh cinta, tentang mereka yang sedang berjuang untuk mimpi-mimpinya. Saya berjanji pada diri saya, untuk menikmatinya…

Cheers,
Amel

Friday, September 23, 2011

A Letter To My Parents



Jakarta, 22 September 2011


Tulisan kedua di Jakarta yang draftnya saya buat di bis yang berjalan menuju ke Tangerang. Perjalanan pulang dari interview terakhir di sebuah perusahaan yang menyediakan crew untuk kapal pesiar.

Interview saya kali ini adalah interview kedua yang saya jalani untuk perusahaan ini. Saya bertemu dengan direktur perusahaan ini. Seorang ibu dengan 3 orang anak (2 putri dan 1 orang putra) yang semuanya sedang bersekolah di luar negeri. Beliau berumur 47 tahun dan sangat cantik. Saya menjalani interview yang menyenangkan dengan beliau.

Mengapa saya menceritakan peristiwa tersebut dalam hal ini? Karena interview ini, berbeda dengan interview yang lain, akan membekas dalam ingatan saya untuk jangka waktu yang sangat lama atau bahkan tidak akan pernah terhapus. Sejujurnya ini bukan interview… namun obrolan antara 2 orang perempuan.. saya, baru menjalani hidup sebagai seorang anak, sementara beliau sudah menjalani perannya sebagai seorang anak dan seorang ibu.

Ibu tersebut, saya tidak tahu namanya, menanyakan kepada saya satu pertanyaan luar biasa yang membuat saya melihat kembali apa yang sudah saya pelajari dan pada akhirnya saya terapkan dalam hidup saya. Beliau menanyakan, what’s your parents taught you about life?

Setelah dia menanyakan hal tersebut, saya terdiam dan mata saya mulai berkaca-kaca…

Dengan rasa bangga dan syukur luar biasa, saya menjawab, “My parents taught me to taking chances in life, to chase what I want through honesty and dignity.”

Saat jawaban tersebut keluar dari mulut saya, saya menjadi benar-benar menyadari apa yang dilakukan oleh orang tua saya selama mendidik saya hingga menjadi seseorang seperti saya. Semua hal yang saya anggap tidak masuk akal, membosankan, tidak menyenangkan yang mereka ajarkan selama masa anak-anak, remaja hingga hari ini pada akhirnya membentuk saya seperti yang banyak orang lihat dan kenal hari ini.

Keseluruhan proses itu tidak semuanya menyenangkan, beberapa malah menyakitkan. Tapi, orang tua saya pun bukan manusia sempurna dan mereka pun belajar menjadi orang tua (yang suatu hari nanti akan saya lakukan juga), manusia tak sempurna yang belajar untuk mengajarkan kehidupan pada buah hatinya. Dan pada akhirnya, apalah arti semua ketidak sempurnaan itu ketika apa yang mereka ajarkan melalui semua pengorbanan itu menjadikan saya (dan kedua adik saya) menjadi manusia yang bisa melangkah menghadapi hidup dan semua tantangannya.

Pada titik ini, saya pada akhirnya (setelah semua kebodohan dan kebutaan saya selama ini), melihat apa yang orang tua saya korbankan untuk anak-anaknya. Mereka mengorbankan hidup mereka untuk hidup anak-anak mereka. Dan ketika putra-putrinya siap menjalani hidup, mereka kembali berkorban dengan melepaskan anak-anaknya dengan doa dan berkat.

Saya membuat tulisan ini untuk dua orang paling penting, paling luar biasa dan paling bijaksana dalam hidup saya. Dua orang yang mengorbankan hidup mereka, untuk kami, anak-anaknya. Dua orang yang ajaran, doa, berkat dan kekuatannya akan ada bersama dengan saya selama saya hidup dan akan saya ajarkan dan berikan kepada putra-putri saya suatu hari nanti.

Tulisan ini saya buat dan persembahkan untuk kedua orang tua saya…

Terima kasih untuk semua pengorbanan papa dan mama. Terima kasih untuk semua ajarannya mengenai hidup. Terima kasih untuk semua doa dan berkat yang selalu diberikan, tanpa perlu saya minta. Terima kasih untuk selalu menjadi sumber kekuatan ketika saya rapuh. Terima kasih untuk semua pelukan tanpa pertanyaan dan pengertian tanpa kata yang selalu diberikan.

Terima kasih… untuk begitu banyak hal yang mungkin saya lupakan atau bahkan tak bisa terucapkan.

Terima kasih sudah memberikan dasar hingga saya menjadi manusia utuh hari ini dengan nilai-nilaimu.

Terima kasih.

I always love you, mom, dad….


With love,

Amel

International Symbol For Marriage




Jakarta, 13 September 2011


Tulisan pertama di Jakarta. Dibuat di food court sambil menunggu Oma Sandy yang jauh-jauh dari BSD, naik kereta untuk menemui saya pertama kalinya dan makan siang bareng. (Dan pada akhirnya menemani saya interview di Thamrin sore ini… Sooo happy).

Tulisan pertama saya di Jakarta ini bukan mengenai macet atau panasnya Jakarta. Sudah terlalu banyak tulisan dan keluhan mengenai kedua hal tersebut, saya rasa. Dan lagi, keduanya sudah menjadi hal yang biasa. Tulisan ini justru tentang profile picture bbm salah satu kontak saya. Yang kebetulan laki-laki, berumur sekitar 40 tahun dan baru saja menikah. Gambar itu sudah saya letakkan di bagian atas tulisan ini.

Pertama kali saya melihat gambar ini, saya kesal setengah mati. International symbol for marriage, my ass!!!! There’s no such things like that if you live your marriage life in a right way. Gambar tersebut menunjukkan bahwa pria menyembah wanita dan menyerahkan kartu kreditnya. Apa nggak salah??

Mungkin gambar tersebut dimaksudkan untuk bercanda. Akan tetapi, karena nilai-nilai yang selama ini diajarkan pada saya mengenai pernikahan berbeda 180 derajat dari apa yang disebut sebagai “international symbol” tersebut, saya menganggap gambar tersebut cenderung menghina kaum perempuan terkait peranan mereka dalam hubungan pernikahan.

Jujur, sampai saat ini saya termasuk salah satu manusia yang mules mendengar kata “pernikahan”. Kenapa? Karena butuh komitmen luar biasa terkait kejujuran, kesetiaan, pembagian peran dalam hidup sehari-hari dan masih banyak lagi. Pihak laki-laki sebagai kepala keluarga memang memiliki tanggung jawab secara financial kepada istri dan anak-anaknya. Sementara pihak perempuan, mengesampingkan sebagian besar keinginan pribadinya untuk suami dan anak-anaknya. Dua-uanya melakukan pengorbanan yang besar, secara financial dan emosional untuk membangun suatu pernikahan yang berjalan dengan baik. Saya melihat hal ini pada semua perkawinan yang bertahan bertahun-tahun dan melewati semua badai. Bukan hanya sekedar laki-laki yang memberikan kartu kreditnya kepada istrinya sambil nangis darah.

Melihat gambar yang dipasang oleh salah satu kontak bbm saya tersebut saya nggak mau bilang teman, karena memang bukan teman saya) adalah gambaran picik, bagaimana seseorang menilai suatu bentuk hubungan pernikahan. Terlepas dari maksudnya sebagai bahan bercanda.

Cheers,
Amel